Hasan Husen Assagaf

Posts Tagged ‘berita’

♣ Makkah Dalam Renungan…

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 9, 2015

Makkah Dalam Renungan…

Foto Makkah Dahulu

Baru saja saya tiba dari kota kelahiran Nabi, Makkah. Banyak perobahan terjadi di kota itu sejak saya tinggalkan bulan Rajab yang lalu . Renovasi besar-besaran di Haram telah digarap atas perintah raja Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain) sebelum ia meninggal. Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor yang terletak di sebelah barat dan utara Masjidil Haram, kini habis diratakan. Beberapa gedung masih tegak berdiri, tapi nyaris akan dibumiratakan. Ratusan truk, buldozer milik kontraktor Saudi Bakar bin Laden terlihat hilir mudik. Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 350.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di luar haram. Dan diperkirakan setelah renovasi bisa menampung lebih dari 2 juta jamaah.

 

Proyek renovasi ini bisa dibilang yang terbesar. Pemerintah Arab Saudi telah memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat. Renovasi ini bukan hanya dipusatkan di haram tapi terjadi juga di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah. Tentu proyek itu bakal menyerap dana milyaran dolar. Ini belum termasuk dana pembangunan gedung pencakar langit. Yang baru saja diresmikan yaitu sebuah super-gedung, yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara jam yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, di depannya diterangi lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.” dan juga dibangun gedung gedung lainya sebagai pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di sekitar haram.

 

Menurut saya, ya sudah sewajarnya terjadi renovasi besar besaran di Makkah, karena setiap tahun, jumlah jamaah haji mencapai 4 juta orang, ditambah belasan juta jamaah umrah. Selain dari itu jumlah haji dan umrah setiap 5 tahun sekali meningkat hingga 10 %. Kehadiran 15-an juta jamaah itu tentu saja membutuhkan akomodasi tempat tinggal begitu juga kesempatan beribadah yang nyaman, aman dan mengesankan. Inilah salah satu sebab utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya.

 

Tapi salain dari perluasan dan perombakan besar-besaran di dalam dan sekitar Haram, kita mengharap agar jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin jamaah dan berapa banyak uang yang diperoleh tapi kita harus memikirkan pula keaslian kota Makkah dan tempat bersejarah di sekitarnya bisa dipertahankan. Karena beberapa fihak banyak yang menyangkan pembangunan gedung pecakar lagit di sekitar haram. Sebab gedung pecakar langit itu akan menutupi pemandangan ka’bah dan keaslian kota kelahiran Nabi.

     

Foto Makkah Sekarang

15  17  1611

14  2  3122

1  4  jamarat-project-in-mina-makkah-al-mukkarrma-after-completion1abaraj-elbait-buldings

kereta-listrik-yang-akan-beroprasi-tahun-depan-dari-haram-ke-mina-mina-ke-muzdalifa-muzdalifa-ke-arafat1  madina-haram-masque-after-four-years1  projek-perumahan-raksasa-akan-dibangun-di-dekat-haramimages

 

 

Salam Dari Kota Nabi, 9 September 2015, Hasan Husen Assagaf

 

Baca berikutnya:

Makkah Dalam Renungan…”Catatan Pinggir Gunawan Mohamad”

— Kala kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.”

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. “It is the end of Mekkah“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin naik; kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan “lapisan-lapisan sejarah” Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.

Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun seperti Big Ben yang digembrotkan (“meniru seperti monyet”, kata Angawy) ia merasa kalah total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah—dan sebab itu harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.

Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.

Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas. Apa yang terjadi?

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?

Mungkin piknik instan ke kemewahan.

     

Posted in Makkah Setelah 2010 | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 43 Comments »

♣ Yahudi..Bukan Bani Israil

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Januari 8, 2009

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Bani Israil disebut di dalam kitab suci Al-Quran sebanyak 42 kali. Nabi Musa disebut sebanyak 129 kali dan Isa Al-Masih disebut sebanyak 23 kali. Sedang nama Islam disebut dalam Al-Quran sebanyak 6 kali dan nama Nabi Muhammad saw disebut 4 kali. Hal ini menunjukan bertapa besar toleransi Islam terhadap agama-agama lainnya.

 

Syeikh Sya’rawi (almarhum) adalah alim ulama besar, pakar dan rujukan utama di Timur Tengah dalam membahas ilmu tafsir. Beliau dikenal tangkas dan memiliki ciri khas yang mengagumkan dalam mengupas tema-tema yang bersangkutan dengan ilmu tafsir Al-Quran pada ceramah-ceramah beliau yang selalu disajikan di setiap teve teve Arab. Saya masih ingat beliau pernah mengupas di salah satu ceramanya tentang kebiadaban, kekejaman dan kedholiman Yahudi yang dirasakan dan dipaksakan diterima oleh rakyat Palestina. Kedua tentang kembalinya warga Yahudi dari seluruh dunia dan diberikan hak prioritas pada siapa pun dan di mana pun warga Yahudi yang ingin kembali ke Israel walaupun warga Yahudi tersebut sebelumnya tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah Palestina. Sehingga, mereka berkumpul dan bercampur-baur membentuk suatu kekuasaan diatas kekuasaan. Pula diberikan pada mereka rekomendasi dari Barat terutama dari Amerika dan Inggris dan hak prioritas penuh untuk mendirikan sebuah negara di tanah Palestina khusus bagi kaum Yahudi yang tercerai-berai di seluruh dunia sesuai dengan yang diangan-angani gerakan zionisme yang didirikan Theodore Herzl pada tahun 1896

 

Ini semuanya, menurut Syeikh Sya’rawi merupakan suatu hikmah Ilahi dan hal yang sangat penting demi membuktikan janji Allah bagi hamba-hamba Nya yang soleh dan beriman bahwa mereka kelak akan mendapatkan kemenangan yang gemilang. Menurut beliau, jika orang-orang Yahudi tidak kembali berkumpul dan bercampur-baur di satu tempat, maka bagaimana mereka akan dibinasakan sehabis-habisnya dengan apa yang mereka kuasai.

 

Kita sebagai muslim berkeyakinan sesuai dengan ajaran yang telah diterapkan dalam Al-Quran bahwa di akhir zaman sebelum kedatangan Isa Al-Masih, orang orang Yahudi yang telah terusir, bercerai-berai dan berhijrah ke seluruh pelosok dunia akan berkumpul kembali ketempat asal mereka di Palestina. Inilah yang sekarang kita saksikan bahwa seluruh orang-orang Yahudi berkumpul dan bercampur-baur setelah mereka bercerai berai sesuai dengan firman Allah 

 

وَّقُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِهٖ لِبَنِىۡۤ اِسۡرَاۤءِيۡلَ اسۡكُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَةِ جِئۡنَا بِكُمۡ لَفِيۡفًا

“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil  “diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur” – al Israa’, 104

 

Keyakinan ini tentu, kalau menurut ajaran kita, bermula dari disaat nabi Musa as dan pengikutnya dari Bani Israel atau yang disebut dalam Al Quran “Ashbath” diusir dan keluar dari Mesir. Dalam bahasa Arab Ahsbath artinya julukan khusus diberikan kepada pengikut-pengikut nabi Musa as yang berasal dari dua belas keturunan nabi Yakub.

 

Nabi Musa dan pengikutnya (12  kabilah Bani Israil) keluar dari Mesir karena diusir dan dikejar-kejar oleh Firaun.

 

فَاَرَادَ اَنۡ يَّسۡتَفِزَّهُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ فَاَغۡرَقۡنٰهُ وَ مَنۡ مَّعَهٗ جَمِيۡعًا

“Kemudian Fir’aun hendak mengusir mereka (Musa dan pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia serta orang orang yang bersama-sama dia seluruhnya”- al Isra’ 103.

Setelah itu nabi Musa dan pengikutnya menuju kota Sina.

 

Kemudian Harun meninggal. dan Musa as melanjutkan perjuangannya sebagai pimpinan Ashbath Bani Israil. Beliau dan rombongan berangkat ke Palestina. Di sana Musa mendirikan dua kerajaan kecil, pertama kerajaan di sebelah selatan Palestina yang terdiri dari dua kabilah Yahudi yaitu kabilah Benyamin dan Yahudha, dan kerajaan yang kedua di sebelah utara terdiri dari sepululuh kabilah Yahudi lainya, yaitu: Ruben, Syam’un, Lewi, Yasakir, Zabulon, Yusuf, Daan, Naftali, Jaad dan Asyir. 

 

Pada tahun 721 Sebelum Masehi, kerajaan Babilon menyerang bagian utara kerajanan Yahudi dan menguasinya. Mulai saat itu terpecahbelahlah bangsa Yahudi dan berceraiberailah kabilah kabilah Yahudi keseluruh pelosok dunia. Sebagian diantara mereka ada yang dibawa ke Irak dijadikan sebagai tawanan. Yahudi Orthodox sampai sekarang masih beranggapan bahwa kabilah kabilah yang berasal dari kerajaan bagian utara merupakan sebagai kabilah-kabilah Yahudi yang hilang dan mereka kelak akan muncul dan kembali lagi bercampur-baur.

 

Ahli sejarah beranggapan bahwa dari sepuluh kabilah yahudi yang bercerai-berai, mereka telah berhijrah keseluruh pelosok dunia, diantaranya ke Asia, Afrika, Rusia, dan negara negara Arab. Ada lagi diantara mereka yang  menetap di Afrika sampai sekarang ini yaitu kabilah Flasha di Ethiopia dan kabilah Yambah di Zimbabwe dan Afrika Selatan, dan yang lainnya ada yang berhijrah ke Jazirah Arabia seperti ke Bahrain, Khaibar, Madinah, dan Yemen, juga ada lagi yang berhijrah ke Asia seperti ke Iran, Cina, Jepang,dan Burma, dan sebagian ada yang berhijrah ke Rusia dan Eropa.

 

Nah, sekarang kita bisa melihat sendiri bahwa semua orang Yahudi yang telah berhijrah, bercerai berai, dan hilang, mereka datang kembali dari seluruh dunia, berkumpul di satu tempat dan membentuk satu negara Israel. Perkumpulan dan kembalinya Ashbat Yahudi ke tanah Palestine merupakan suatu hikmah dan hal yang sangat penting demi untuk membuktikan ketepatan janji Allah bagi hambanya yang soleh dan beriman bahwa mereka akan mendapat kemenangan yang gemilang di masa mendatang Insya Allah. Karena jika orang-orang Yahudi tidak kembali berkumpul dan bercampur-baur di satu tempat, maka bagaimana mereka akan dibinasakan sehabis-habisnya dengan apa yang mereka kuasai.

 

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآَخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

“Dan Apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua (Kami datangkan orang orang lain) untuk menyuramkan muka muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuh mu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabi-habisnya apa saja yang mereka kuasai” – Al Isra’ 7

 

Itu janji Allah dan Allah jika berjanji, tidak akan menginggkari janjiNya. Adapun janji Rasulallah saw adalah sesuai dengan sabdanya dalam hadist yang diriwayatkan  HR Ahmad 9029 dari Abi Hurairah ra sesungguhnya Rasullah saw bersabda:

 

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلَهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ وَرَاءَ الْحَجَرِ أَوْ الشَّجَرَةِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُود

 “Tidak akan bangkit hari Kiamat kecuali orang Islam memerangi Yahudi dan membunuh mereka sampai sampai mereka bersembunyi di belakang batu dan pohon. Kemudian batu dan pohon tadi berkata: Wahai muslim ini dibelakangku ada seorang Yahudi, bunuhlah dia kecuali pohon Al-gharqad sesungguhnya pohon itu adalah pohon orang yahudi 

 

download (1)

Pohon Al-Gharqad ditanam hapir di setiap rumah orang orang Yahudi

 

Wallahua’lam

Posted in Yahudi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | 32 Comments »

♣ Amiin, sabda Nabi

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2008

 

 

Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwatkan bahwa Abi Hurairah ra berkata: Pernah Rasulallah saw naik ke mimbar dan berkata, “Amiin“ sebanyak tiga kali. Setelah khutbah seorang sahabat bertanya “Wahai Rasulallah, kenapa engkau berkata amin tiga kali di saat naik ke mimbar?” Rasulallah saw menjelaskan bahwa Jibril datang kepadanya dan berkata:
 
“Sungguh sial bagi siapa yang datang kepadanya bulan Ramadhan, tapi tidak
diampuni dosanya” Lalu beliau menjawab “AMIIN“
 
“Sungguh sial bagi siapa yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satu dari mereka semasa hidupnya tapi tidak berbuat baik kepada mereka” Lalu beliau menjawab lagi “AMIIN“
 
“Sungguh sial bagi siapa yang mendengar namamu disebut dihadapanya, tapi
tidak berselawat atasmu” Beliaupun menjawab lagi “AMIIN “
 
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tak lupa saya sekeluarga
mengucapkan:

 
”Selamat berpuasa semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan mengembalikan hari hariNya yang indah kepada

kita dan ummat Islam dengan keberkahan,

kebaikan dan kemenangan.”

Amiin
 
Mohon maaf jika terdapat kelepatan. 

 

Salam dari kota Nabi

Hasan Husen Assagaf

 

 

 

 

Posted in Amiin, sabda Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1430/2009

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 17, 2008

jadwal_imsakiyah_ramadhan_1430_pakarfisika_jakarta

Posted in Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2008 | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Silaturahim ke Alam Barzakh

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 16, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan ruh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh.

 

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “ Al-Mu’minun 100

 

Karena ruh itu tetap hidup maka silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk orang yang masih hidup di dunia, tapi hubungan kita dengan mereka yang sudah pindah ke alam barzakh pula sangat diperlukan. Sekalipun berbedanya alam antara kita dengan mereka tapi semuanya bisa dijangkau dengan silaturahim.

 

Sebelum menjelang bulan Ramadan dan di Hari Raya. Komplek pemakaman ramai tidak sedikit dikunjungi orang orang yang ingin bersilaturahim dengan keluarganya yang sudah meninggal dunia. Ada yang berziarah ke makam orang tuanya. Ada yang berziarah ke makam sanak famili atau karabatnya, ada pula yang berziarah ke makam para sesepuh dan ulama. Hal ini demi untuk mendoakan mereka yang telah mendahului kita agar Allah memberikan kepada mereka rahmah dan maghfirah dan mengharamkan jasad-jasad mereka dari sentuhan api neraka.

 

Rasulallah, sebagimana diriwayatkan Abu Daud, pada awal sejarah Islam pernah melarang umat Islam untuk berziarah kubur. Beliau khawatir umat Islam mengkultuskan kuburan, berlaku syirik, atau bahkan menyembah kuburan. Tapi selelah keimanan umat Islam meningkat dan kuat. Maka Rasulallah saw tidak khawatir lagi. Rasulallah saw pun kemudian bersabda : “Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukanya. Sebab bisa mengingatkan kita kepada akhirat”.

 

Silaturahim kepada penghuni alam barzakh adalah perbuatan dan tradisi baik. Selain merupakan ibadah juga untuk mengenang jasa dan berbalas budi orang. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Jelasnya, silaturahim kepada mereka sudah menjadi tradisi yang mendarah-daging. Tahun demi tahun berjalan, dan ziarah demi ziarah pasti menyertainya. Dan andai kata kita lupa, atau lalai melakukannya, kita akan segera merasa, ada sesuatu yang ganjil atau kurang mantap dalam diri kita. Ziarah kubur sudah menjadi kebutuhan hidup kita, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.

 

Di samping itu, tradisi berziarah ini sangat baik dan terpuji demi mengingatkan kita semua, termasuk orang kaya, pamong praja, dan berpangkat, bahwa satu hari hidup kita pasti akan berakhir di pekuburan. Semua kemegahan hudup, rela tak rela, harus ditinggalkan dan kita harus terima babak baru perjalanan menghuni liang kubur yang luasnya sekitar 1 x 2 meter saja.

 

Telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulallah saw telah menganjurkan kita, disaat memasuki kompleks pemakaman, agar mengucapkan salam kepada ahlil kubur seperti memberi salam kepada orang hidup: “Salam sejahtera bagimu penghuni kubur dari kaum Muminin dan Muminat. Dan kami Insya Allah akan betemu dengan kalian. Kamu adalah orang orang yang mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Kami bermohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian”.  Ucapan salam biasanya diberikan kepada orang yang mendengar dan berakal. Jika tidak, maka ucapan ini tidak mempunyai fungsi atau seolah-olah bersalam kepada benda jamad yang tidak mendengar dan berakal.

 

Para salaf  soleh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana ahli kubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mayyit setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan.

 

Diriwatkan oleh Imam Bukhari Muslim, pernah Rasulallah saw menyuruh mengubur orang orang kafir yang meninggal dalam peperangan Bader di kuburan Qulaib. Kemudian beliau berdiri di muka kuburan dan memanggil nama nama mereka satu persatu : “Wahai Fulan bin Fulan!! .. Wahai Fulan bin Fulan!!.. Apakan kamu mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kamu? Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku”.  Umar bin Khattab ra yang berada disamping Nabi bertanya : “Ya Rasulallah sesungguhnya kamu telah berbicara dengan orang-orang yang sudah usang (mati)”. Rasulallah saw pun berkata, “Demi Yang telah mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya kamu tidak lebih mendengar dari mereka dengan apa yang aku katakan”.

 

Imam besar Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulallah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda,  “Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur. Mereka tidak diazab karna dosa-dosa mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karna dosa-dosa mereka yang kecil. Yang pertama diazab karna suka berbuat namimah (mengupat / ceritain orang) dan yang kedua diazab karna tidak beristinja’ (tidak cebok setelah hadats kecil)”.  Kemudian Rasulallah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan trb. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulallah saw itu. Beliau bersabda : “Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur trb semasih tangkai pohon itu basah, belum kering. Karna ia beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab”.

 

Sekarang, jika Allah memberi keringanan azab kepada ahli kubur karna istighfar sebatang pohon, istighfar seekor binatang, istighfar sebuah batu, pasir dan krikil atau benda-benda jamad lainnya yang tidak berakal. Apalagi istighfar kita sebagai manusia yang berakal dan beriman kepadaNya.

Wallahua’lam 

Posted in Silaturahim ke Alam Barzakh | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 15 Comments »

Kenapa dia Rela Bunuh Diri?

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 28, 2008

 Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

SURAT KABAR al-Jazirah – Saudi Arabia , pernah memuat berita kejadian seorang pembantu rumah tangga melakukan bunuh diri di atas rumah bertingkat dua di Jeddah. Saat ditemukan, leher korban terjerat kain kerudung yang dililitkan pada sebatang kayu tangga. Kejadian misterius itu betul-betul sangat mengejutkan masyarakat setempat. Setelah diproses ternyata pembantu rumah tangga, yang sudah berkeluarga, tak ditemukan tanda-tanda bekas penganiayaan, sehingga dipastikan ia tewas akibat bunuh diri. Perbuatan nekat ini, diduga karena ia selalu mengirimkan gajinya kepada suaminya rutin setiap bulan untuk biaya kedua anaknya yang masih kecil. Akan tetapi digunakan sang suami untuk kawin lagi dan berpesta pora dengan istri muda. Frustasi ini yang membuat pembantu kehilangan akal dan iman, lalu nekat membunuh diri di tangga.

 

Kejadian kedua yang saya alami sendiri, terjadi dahulu di waktu musim haji. Rombongan jama’ah haji Indonesia, setelah melakukan tahallul pertama, berangkat ke Makkah untuk melakukan solat Idul Adha, toaf ifadhah dan berlebaran.  Setiba di Makkah, salah satu dari rombongan Jama’ah haji yang dipimpin Ustadh HAA, ada yang bunuh diri di kamar mandi dengan menggunakan sarung yang dijerat di lehernya. Kejadian itu cukup menghebohkan para jama’ah haji. Hasil pengusutan polisi menunjukkan, tak ditemukan alasan yang cukup sehingga Pak Haji harus membunuh diri di kamar mandi. Yang jeles pasti ada problem besar yang membuat Pak Haji kehilangan akal dan iman lalu nekat membunuh diri di kamar mandi.

 

Bunuh diri merupakan hal yang ganjil dan para pelakunya merupakan korban kekejahatan dirinya. Di Australia, telah didirikan lembaga aneh yang diberi nama Lembaga Penyelidik Bunuh Diri. Sesuai dengan namanya, lembaga ini bertugas untuk menyelidiki secara rinci sebab-sebab terjadi bunuh diri dan bangaimana pencegahannya. Yang lebih aneh, menurut hasil research, bahwa kebanyakan bunuh diri terjadi di musim panas. Ini tidak terjadi hanya di Australia, akan tetapi hampir di seluruh belahan dunia (www.theaustraliannews.com).

 

Sudah pasti hal ini sangat bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Bunuh diri tidak terjadi di musim panas atau di negara negara yang beriklim panas, akan tetapi mayoritasnya terjadi di negara negara barat yang bersuhu dingin sepanjang tahun. Contohnya negara Lithuania meraih juara pertama, diperkirakan 46 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Setelah itu Rusia meraih martabat yang kedua yang diperkirakan 42 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Dan ketiga dan seterusnya semuanya diraih oleh negara negara Eropa dan Amerika yang maju. Akan tetapi bunuh diri masih terdapat di negara negara tersebut disebabkan karna masalah yang sangat sepele.

 

Bunuh diri merupakan perbuatan yang terkutuk dan dibenci. Perbuatan ini dikatagorikan dosa besar (minal kabair), sebagaimana firman Allah didalam al-Quran yang berbunyi:  

 

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu“. An-Nisa,29.

 

Islam mengharamkan dan melarang perbuatan yang sifatnya menjerumuskan pelakunya kedalam kerusakan dan kebinasaan seperti perbuatan membunuh diri, sebagaimana firmanNya dalam surat al-Baqarah ayat 195,

 

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karna sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik“.

 

Akan tetapi berlainan dengan aksi bunuh diri yang dilakukan rakyat Palestina demi untuk membela kehormatan, negara dan agama mereka. Hingga saat ini masih terus dilacak dasar aksi serangan bunuh diri yang dilakukan para aktivis Islam militan di Palestina. Menurut pandangan ulama, serangan bunuh diri demi untuk mengakhiri kolonialisme adalah suatu hak yang terpuji dan pelakunya mendapat gelar syahid.

 

Di akhir tahuh 1995, Syeikh al-Azhar Prof Dr Mohammad Sayed Tantawi  menyebut pejuang Palestina yang menggelar bom bunuh diri sebagai syahid. Ketika ia dikritik banyak pihak, ia pun meralat pandanganya dan mengatakan, orang meledakan dirinya di pangkalan meliter Israel adalah syahid. Adapun orang yang meledakan dirinya di tengah sipil Israil bukanlah syahid. Ungkapan ini tetap dibantah para ulama, karena semua warga Israil bersenjata.

 

Adapun serangan bunuh diri pertama kali bagi warga muslim dalam sejarah modern ini dilakukan oleh seorang murid Jamaluddin al Afghani bulan maret tahun 1896, ketika dia melancarkan serangan bunuh diri terhadap Shah Iran Nazaruddin Shah. Aksi ini demi untuk membangkitkan pemerintah dan rakyat muslim untuk memerangi negara-negara kolonialisme demi kehormatan umat dalam upaya megusir penjajahan.

 

Nah! sekarang, apa yang membuat seseorang menyerahkan hidupnya untuk membunuh orang lain? Sepintas, hal semacam ini tidak mungkin terjadi atau tidak masuk akal. Akan tetapi, apa yang terjadi di Palestina bukan sesuatu yang baru, yang terjadi di sana sudah menjadi sesuatu yang biasa. Bahkan banyak di negeri itu orang yang rela mati demi orang lain, atau demi apa yang disebut sebagai  perjuangan mengusir penjajahan.

 

Mengapa mereka rela mati dengan cara seperti itu? Bukankah hidup itu sangat berharga? Menurut mereka, memang betul hidup itu sangat berharga, tetapi pada akhirnya semua orang bakal mati. Peristiwa kematian pasti akan menimpa setiap orang. Ada orang yang mati karena kecelakaan, ada yang mati di ujung pedang, ada yang mati di atas kasur dan ada lagi yang mati karena membela hak. Singkatnya, semua orang pasti mati “bermacam macam sebab kematian, tetapi hakekatnya manusia pasti harus mati”. (al-Hadits). Allah berfirma “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. An-Nisaa’,78.

 

Menurut Islam, kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan roh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. Oleh karena itu orang yang semasa hidupnya banyak menabur dan menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah pintu yang membawanya masuk kedalam kehidupan baru yang jauh lebih baik dan lebih indah dari kehidupan di dunia.

 

Itulah yang diyakini para pembom bunuh diri di negara Palestine. Mereka berkeyakinan bahwa setelah kematian yang mereka lakukan secara mestiri itu demi membela agama dan negara dalam upaya mengusir penjajahan, akan mengantarkan mereka ke taman surga Firdaus yang mengalir di bawahnya sungai sungai, sehingga kematian yang mereka lakukan akan tidak terasa atau tidak lebih dari sekedar bentokan atau pukulan. Menurut mereka kematian semacam ini adalah mistiri yang tidak mungkin dipahami oleh manusia secara rasional. Hanya iman yang kokoh, keikhlasan yang luas dan cinta kasih terhadap agama, sesama dan negara.

 

Itulah sebabnya, ketika dikabarkan bahwa pembom bunuh diri tewas saat menjalankan tugasnya, keluarga mereka akan mendapat pujian, penghargaan, bukan ucapan belasungkawa. Bahkan kematian mereka disambut dengan sorak gembira disertai dengan zaghrathah (jeritan suara perempuan Arap disaat pesta perkawinan) dan mereka dianggap sebagai pahlawan yang akan dikenang sepanjang masa.

 

Adapun aksi bunuh diri yang dilakukan terhadap rakyat sipil yang tak berdosa di Negara yang berdaulat seperti yang telah terjadi di Legian-Bali dan Hotel Marriot-Jakarta, tidak tergolong mati syahid. Karena tindakan menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran merupakan tindakan yang keji dan dikutuk oleh seluruh lapisan masyarakat dunia dan ulama.

 

Wallahua’lam,

 

 

Posted in Kenapa Ia Rela Bunuh Diri | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 12 Comments »

Silaturahim

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

download

Perlu diketahui, ada kesalahan yang sudah lumrah dan menjadi umum terhadap kata “silaturahim”. Selama ini yang biasa dipakai adalah kata “silaturahmi”, sebenarnya kata ini terdapat kesalahan. Seharusnya adalah “silaturahim”bukan silarahmi.

 

Dalam bahasa Arab rahim artinya lembut, kasih sayang , atau karabat. Secara jelas kata ini kita bisa lihat dalam ayat al Qur’an yang berbunyi :

 

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim “- an Nisa,1.

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – رواه البخاري ومسلم

Begitu pula kita bisa lihat dalam hadits Nabi yang diriwawatkan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasulallah bersabda “Siapa yang ingin senang, diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia bersilaturahim “ ( Bukhari Muslim ).

 

Ayat dan hadist tersebut diatas tidak hanya menerangkan asal kata silaturahim, tapi juga mengandung urusan besar dan perintah penting. Begitu peningnya perintah itu, sehingga silaturahim dijajarkan dengan perintah bertakwa kepada Allah dan menjadi syarat luasnya rezeki dan panjangnya umur. Bukankah dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa orang yang suka memutuskan silaturahim diancam dengan “bisa masuk neraka”?.

 

Silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk berhubungan dengan keluarga, famili dan handai tolan saja, tapi lancarnya jalan da’wah pula memerlukah silaturahim. Silaturahim adalah ruh bagi berkembangnya da’wah. Tampak silaturahim yang baik, geraknya da’wah bisa terhenti bahkan putus sama sekali. Jauhnya tempat tinggal, lamanya masa berpisah, merantau (seperti saya sekarang ini) dan sibuknya tugas pekerjaan adalah factor-fakor penyebab putusnya silaturahim yang berarti putusnya pula da’wah. Jadi dengan silaturahim yang baik, semua factor-faktor trb bisa diatasi.

 

Ada banyak cara menyabung silaturahim. Misalnya, kemajuan teknologi merupakan nikmat utama dari Allah yang patut kita disyukuri. Kalau dulu, untuk saling menyapa dan menanyakan kabar, dibutuhkan waktu yang lama yaitu dengan surat menyurat. Tapi kini hanya tinggal pencet, hanya dalam beberapa detik saja silaturahim bisa diwujudkan. Coba lihat misalnya WA, SMS, telepon, email, milis, blog dan media lainya adalah sarana mudah untuk silalturahim yang bisa menembus batas lintas negara sekalipun. Dengan teknologi yang serba canggih, Jauh tempat tinggal, lama berpisah, merantau dan sibuknya pekerjaan sudah tidak menjadi masalah.

 

Namun, bukan semua jalinan silaturahim hanya cukup dengan sarana kemajuan teknologi saja. Bertatap muka, pertemuan-pertemuan dan berjabatan tangan tetap menjadi hal yang sangat penting. Hal ini biasanya dilakukan pada waktu munasabat (occation) seperti perayaan, peringatan, hari hari raya, dan masih banyak lagi munasabat yang bisa membuat kita bertemu muka dan bertatap wajah.

 

Maka dari itu, majlis ta’lim, pengajian-pengajian rutin, dan pula, merurut saya, situs situs kita, yang kelihatanya kecil fungsinya, menjadi hal yang patut harus digalakan. Jangan sampai kesibukan, jabatan, kedudukan dan urusan duniawi lainya menyebabkan hal trb terbengkalai.

 

Jadi, agar hubungan kita tidak terputus koncinya adalah silaturahim apalagi di bulan Rajab dan menjelang datangnya Syaban dan Ramadhan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan anugrah Ilahi.

 

 “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan” (hadist Nabi).

Wallahua’lam    

Posted in Silaturahim | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 4 Comments »

Kenapa Nabi Berpoligami?

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 7, 2008

Makam Khadijah Makkah

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Ada beberapa hal yang sangat perlu diketahui kenapa Nabi saw berpoligami?:

 

Pertama, mari kita lihat bagaimana cintanya Rasulallah saw kepada istrinya yang pertama Khadijah ra. Rasulallah saw sangat mencintai istrinya Khadijah. Kisah cinta beliau dengan Khadijah ra adalah kisah cinta paling setia sepanjang sejarah umat. Tidak bisa dibandingkan dengan kisah cinta Qais dan laila atau kisah cinta Romeo dan Juliet, karena kisah ini tidak hanya berakhir dengan perkawinan kemudian menghilang tanpa bekas, atau berakhir dengan berumah tangga kemudian melanglangbuana tanpa arah. Akan tetapi kisah cinta Rasulallah saw dengan siti Khadijah adalah kisah yang tidak putus dan tidak pernah putus walaupun salah satu dari insan itu sudah meninggal dunia. Maka kisah cinta beliau dan istrinya Khadijah adalah kisah cinta yang paling sejati, cinta yang paling suci, kisah cinta yang paling sejati, cinta yang luar biasa yang terus belanjut walaupun siti Khadijah telah pulang ke rahmatullah. 

 

Kisah cinta beliau dengan istrinya Khadijah pernah berkisah, yaitu setelah merebut kota kelahiranya, Makkah, beliau ditawarkan penduduk agar tinggal di rumah rumah mereka. Akan tetapi beliau menolak dan menyarankan para sahabat agar segera mendirikan kemah di muka kuburan istrinya, Khadijah ra. Beliau berseru: “Dirikanlah bagiku kemah di muka kuburan Khadijah”. Begitulah kecintaan Rasul saw terhadap istrinya, Khahdijah ra.

 

Di lain kisah, pernah setelah penaklukan kota Makkah, banyak suku Quraisy yang datang mengelilingi Rasulallah saw, mereka datang untuk meminta maaf kepadanya. Kaum Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan datang menghampirinnya. Tiba tiba saja beliau melihat seorang nenek yang sangat tua datang terbungkuk bungkuk ingin menemui beliau. Begitu melihat nenek tadi, beliau segera meninggalkan rombongan kaum Quraisy yang ada di sekelilingnya dan langsung berdiri menyambut kedatangannya. Beliau duduk di samping nenek tua tadi dan diajaknya berbicara dan bercerita. Kelihatanya begitu akrab Rasulallah saw dengannya. Tidak sedikit waktu yang diluangkan untuk berbincang bincang denganya.

 

Melihat kejadian itu A’isyah ra bertanya kepada beliau: “Siapa gerangan nenek tua tadi wahai Rasulallah?”. Beliaupun menjawab “Ia adalah sahabat akrab Khadijah”. A’isyah kembali berkata: Apa yang engkau bicarakan denganya wahai Rasulallah? Beliau menjawab “Kami membicarakan hari hari indah bersama Khadijah”. Ketika itu timbulah raca cemburu dalam diri A’isyah, lalu ia berkata “Apakah engkau masih mengingat ngingat orang tua yang sudah menjadi tanah itu. Sedangkan Allah telah menggatinya dengan yang lebih baik?”. Rasulallah marah besar dan nampak jelas kemarahannya dari raut muka beliau, lalu berkata “Demi Allah, Dia tidak pernah menggantinya dengan seorang perempuan yang lebih baik darinya”. Kemudian Rasulallah menyebut jasa jasa baik Khadijah terhadap beliau dan Agama Islam. A’isyah merasa bersalah, lalu dia berkata “Mintailah ampunan bagiku wahai Rasulallah”. Lalu beliau menjawab “Mintalah maaf kepada Khadijah, baru aku akan memintakan ampun bagimu”.(HR Bukhari).

 

Kita lihat lagi hadits dibawah yang menerangkan tentang keistimewaan Khadijah ra, dari Aisyah ra, ia menceritakan,

 

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ – قَالَتْ – فَغِرْتُ يَوْماً فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْراً مِنْهَا. قَالَ « مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ »

Nabi saw ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.”

Nabi saw lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR. Ahmad, 6:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih.)

Jelasnya, bahwa jasa Khadijah ra yang besar pada risalah nubuwwah dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati suaminya, Rasulallah saw, sehingga beliau selalu menyebut nyebut kebaikanya walupun ia telah wafat. Makanya tak heran jika Allah telah menyampaikan salam khususNya untuk Khadijah ra melalui perantaraan Jibril as kepada Rasulallah saw disertai kabar gembira “Aku telah sediakan baginya rumah di surga yang dibuat dari emas yang tiada kesusahan baginya atau kepayahaan”

 

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,

أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ

“Pada suatu ketika Jibril pernah datang kepada Rasulullah saw sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk, atau makanan atau minuman.’ ‘Apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.’” (HR. Bukhari Muslim)

Kedua, Rasulallah saw berumah tangga bersama istri Khadijah binti Khuilid ra berlangsung selama 28 tahun dan paut usia antara mereka sangat berjauhan. Khadijah pada waktu disunting Rasulallah saw usianya 40 tahun. Sedang Nabi saw seorang jejaka usia beliau pada waktu itu 25 tahun. Selama 28 tahun beliau berumah tangga, Khadijah ra tidak pernah dimadu. Baru kemudian setelah wafatnya Khadijah ra Rasulallah saw kawin lagi. Itu pun tidak dilakukan langsung setelah meninggalnya siti khadijah akan tetapi beliau kawin lagi dua tahun setelah wafatnya istri beliau. Rasulallah saw kawin lagi dengan Aisyah ra yang pada saat itu masih kanak kanak dan masih menunggu beberapa tahun lagi agar Aisyah ra memasuki usia dewasa.

 

Kalau memang betul Rasulallah saw itu senang kawin, sebagaimana dikatakan orang orang oriaentalis, kenapa tidak dilakukan langsung setelah Khadijah meninggal dunia dan kenapa beliau tidak kawin dengan wanita yang muda belia, tapi kenyataanya beliau kawin lagi dengan seorang anak kecil yang masih menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa digauli. Begitulah seterusnya yang dijalani Rasulallah saw sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Kalau kita telaah secara seksama sebab sebab perkawinan Rasulallah saw yang kedua, ketiga dan seterusnya hanya untuk penyelesaian problem sosial dan ini bisa dilihat dari hadist hadist nabi yang membicarakan perkawinan-perkawinan Rasulallah saw. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati atau korban perang, kecuali Aisyah ra. Maka singkatnya, kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwa sebenarnya tidak beralasan untuk mengatakan banyak beristri itu adalah perbuatan Rasulallah saw.

 

Jelasnya, hanya ada satu ayat yang menerangkan tetang poligami, yaitu surat an-Nisa ayat-3

 

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim, maka kawinlah wanita wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat . Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja”.

 

Kalau kita telaah dengan rinci ayat itu turun untuk melindungi hak terhadap yatim piatu dan janda korban perang. kemudian dikatakan lagi kita boleh kawin lagi asal saja bisa berlaku adil karena islam mengajarkan kita untuk berlaku adil, tapi kenyataanya berlaku adil sangat sulit, dan tidak mungkin bisa dilakukan. Lihat surat an-Nisa-129

 

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan kamu sekali kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung katung”.

 

Ketiga, Rasulallah melarang berbuat sewenang-wenang terhadap wanita, melarang pelecehan terhadap wanita dan melarang menyakiti hati wanita. Hal ini kita bisa lihat dari sikap Rasulallah yang sangat tegas dan bijaksana menolak Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra untuk kawin lagi semasih putri beliau, Fatimah ra, hidup.

 

Pernah Rasulallah saw marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah ra akan dimadu Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketika mendengar rencana itu, Rasulallah saw pun langsung masuk ke masjid dan naik ke atas mimbar, lalu berseru, “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi aku tidak akan mengizinkan. Sungguh aku tidak izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, dan aku persilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku, apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” Begitulah kurang lebih bunyi hadist Rasulallah saw.

 

Terakhir, saya hanya ingin bertanya: kalau Rasulallah melarang Ali bin Abi Thalib ra untuk memadu putri beliau, Fatimah ra. Maka saya rasa hampir setiap orangtua di muka bumi tidak akan rela jika putrinya dimadu. Karena, seperti dikatakan Rasulallah saw, perbuatan itu akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

 

Wallahu’alam

Kartu Keluarga Nabi

 

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 5- Kenapa Nabi Berpoligami? | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | 20 Comments »

Ringkasan Biografi Nabi

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 5, 2008

Kartu Keluarga Nabi SAW

 

No. Kartu Keluarga

1-5-25-313-124000

1

Pertama makhluk diciptakan Allah adalah nur Nabi Muhammad saw

5

Nabi kelima yang mendapatkan julukan U’lil A’zmi dari 5 nabi ( Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad)

313

Rasul ke 313 yang diutus Allah ke Bumi bagi manusia

124000

Jumlah nabi yang di utus ke Bumi dan Rasulallah saw adalah akhir nabi

 

Ringkasan Biografi Nabi SAW

 

Nama

Muhammad Rasulallah SAW

Nama Bapak

Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah

Nama Ibu

Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah

Nama Nenek dari Bapak

Fatimah binti Umar Al-Makhzumiyah

Nama Nenek dari Ibu

Burrah binti Abdul U’za’ bin Utsman bin Abduddar bin Qushay bin Kilab bin Murrah

Warga Negara

Muslim Quraisyi Hasyimi

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, dekat Al-Shofa di Rumah Abi Thalib (sekarang dijadikan Perpustakaan Makkah), hari Senen 12 Rabiul Awal tahun 53 sebelum Hijrah bertepatan tanggal 20 April 570 M

Nama Bidan

Syaffa binti A’uf (Ummu Abdurahman)

Nama Pengasuh

Ummu Aiman

Nama Penyusu

1-  Stuaibah Al-Aslamiyah (Budak Abu Lahab)

2 – Halimah binti Abi Dhuaib Al-Sa’diyyah (Istri Harist bin Abdul U’zza)

Tempat dan Tanggal Diutus

Goa Hira, Makkah 27 Ramadhan 13 Sebelum Hijrah (17 Agustus 609M)

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah 12 Rabiul Awal 11 H bertepatan tanggal 6 Juni 632M

Jenis Kelamin

Pemimpin Laki Laki

Agama

Pemimpim Muslimin

Alamat

Makkah dan Madinah, Masjid Nabawi

Pekerjaan

1-Pengembala domba di masa kecil

2- Pedagang sampai usia 40 tahun

3- Rasul dan Nabi sebagai rahmat bagi alam semesta

Tanda Tanda Istimewa

1 – Stempel kenabian atara kedua bahunya

2 – Dipayungi awan dalam setiap pepergian

Tanda Tanda Jasmani

Berperawakan sedang, Berkulit putih kemerah merahan, berdahi lebar, berambut hitam dan panjang, bermata jeli, bertubuh sempurna, sedap dipandang mata, lesung pipit, senyumnya menarik, tidak ada seorang pun di dunia yang menyamainya dalam keindahan tubuh dan kesempurnaan jasad.

Saudara Susu Nabi

Dari Stwaibah:

1- Abdullah bin Jahsy

2- Hamzah bin Abdul Muthalib

3- Abu Salamah bin Abdul Asad

4- Masruh ibnu Stuaibah

Dari Halimah Al-Sa’diyyah

1- Abdullah bin Harist

2- Anisah binti Harist

3- Hudhafah binti Harist

Istri-Istri Nabi

1- Khadijah binti Khuailid

2- Saudah binti Zama’h

3- A’isyah binti Abu bakar As-Shiddik

4- Hafshah binti Umar bin Khattab

5- Zeinab binti Khuzaimah

6- Hind binti Hudhaifah

7- Zainab binti Jahsy

8- Juwairiyah binti Harist

9- Shafiyyah binti hay

10- Ramlah binti Abi Sufyan

11- Maimunah binti Al-Harist

12- Mariya binti Syamu’n

Putra Putri Nabi

1- Qasim

2- Abdullah (Al-Thayyib atau Al-Thahir)

3- Ibrahim

4- Zainab

5- Ruqayyah

6- Ummu Kalstum

7- Fatimah

Cucu Cucu Nabi

1- Ali

2- Abdullah

3- Hasan

4- Husen

5- Muhsin

6- Umamah

7- Ummu Kalstum

8- Zainab

Paman Nabi

(Dari Bapak)

1- Zubair (Abu Thahir)

2- Abu Thalib (Abdu Manaf)

3- Abbas

4- Dhirar

5- Hamzah

6- Al-Muqawm

7- Hijl

8- Harist

9- Abu lahab (Abdul U’zza’)

10- Ghaidaq

11-Abdul Ka’bah

12- Qustm

Bibi Nabi

(Dari Bapak)

1- Ummu Hakim Al-Baidha’

2- A’tikah

3- Umaimah

4- Arwa’

5- Burrah

6- Shafiyyah

Paman Nabi

(Dari Ibu)

1- Al-Aswad bin Yaghust

2- Abdullah bin Al-Arqam bin Yaghust

Kartu Keluarga Nabi Saw

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 1- Ringkasan Biografi Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 19 Comments »

Kartu Keluarga Nabi (K K Nabi)

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 5, 2008

 

يا غاديا  نحو  الحبيب عساك تقر السـلام  إذا  وصلت  هناك

و عساك  تجري  ذكر  مثلي  عنده  فهو الشفاء  لدائنا  و لداك

و قل السلام عليك يا خير الورى من عاشق طول المدى يهواك

 

Wahai musafir sampaikanlah salamku kepadanya setibamu di Madinah
Mudah2an menyebutku di maqamnya karena beliau obat bagi kita semua
Katakanlah “Salam atasmu wahai sebaik baiknya manusia” dari perindu
setiap masa yang tak henti henti mencintainya

 

Telah diterbitkan booklet yang berjudul “Kartu Keluarga Nabi SAW” dan dilucurkan di situs ini. Booklet ini berisi ringkasan biografi Nabi, istri istri Nabi, putra putri Nabi, cucu cucu Nabi dan diilustrasi dengan peninggalan bersejarah Nabi yang insyallah bisa membawa mangfaat dan keberkahan bagi kita dan dapat pula menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencitai Nabi saw dan keluarganya. Amin

 

” إِنَّمََا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهَّرَكُمْ تَطْهِيْرًا ” صدق الله العظيم

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” Al-Ahzab 33

 

” قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا اْلمَوَدَّةَ فِي اْلقُرْبَى ” صدق الله العظيم

“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. As-Syuara’ 23

 

Penyusun

Hasan Husen Assagaf

 

 

    Isi booklet

Klik dibawah:

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

 

Posted in 03- Kartu Keluarga Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 18 Comments »

Istri Istri Nabi

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

 

 Silahkan klik:

 

1–   Khadijah binti Khuailid

2-   Saudah Al-A’miriyah

3-   A’isyah binti Abu Bakar

4-   Hafshah binti Umar bin Khattab

5-   Zainab binti Khuzaimah

6-   Hind Binti Hudhaifah

7-   Zainab binti Jahsy

8-   Juairiyah binti Harist

9-   Shafiyyah binti Hay

10- Ramlah binti Abu Sufiyan

11- Maimunah binti Harist

12- Mariya Al-Qibthiyyah

 

Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 2- Istri Istri Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 5 Comments »

Peninggalan Nabi

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Foto peninggalan Nabi terdapat dalam booklet “Kartu Keluarga Nabi”. Untuk membaca K K Nabi silahkan klik Kartu Keluarga Nabi SAW. Semoga bermangfaat.

Salam dari “Kado Dari Kota Nabi”.

Hasan Husen Assagaf

tempat lahir nabi   Jabal Nur dipuncaknya Gua Hira\'   gua hira 

gunung stour/nabi dan abu bakar bersembunyi   gua, nabi dan abu bakar bersembunyi    pemakaman al-mua\'la 

tapak kaki Rasul   stempel / cincin nabi   pedang dan busur panah nabi   pedang nabi  

 rambut nabi    erban-burdah-dan-tongkat-rasulallah-saw    mushaf ustmani

 rambut nabi makam nabi zaman dulu makam ibu nabi / aminah gubbah Nabi

mimbar nabi      Makam Nabi      Masjid Nabi  

Sandal Nabi    Mihrab Nabi    Makam Siti Khadijah   peta Makkah

 

Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 4- Peninggalan Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 19 Comments »

Cucu Cucu Nabi

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 2, 2008

 Klik:

1- Hasan

2- Husein

 

Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami 

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 4- Cucu Cucu Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »

Putra Putri Nabi

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 2, 2008

 

Silahkan klik:

 

1- Zainab

2- Qasim

3- Ruqayyah

4- Ummu Kalsthum

5- Fatimah

6- Abdullah

7- Ibrahim

 

 Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 3- Putra Putri Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , | 5 Comments »

Bulan Sabit Di Atas Ka’bah

Diposkan oleh: HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 25, 2008

makkah di waktu malamOleh: Hasan Husen Assagaf (25 Juni 2003)

PERJALANAN dari Riyadh ke Makkah cukup memakan waktu dan tenaga, kurang lebih 1000 kilometer atau 10 jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Selama perjalanan saya dan keluarga beristirahat dua kali, pertama di wadi Hilban dan yang kedua ditengah-tengah antara kota Thaif dan Makkah yaitu (Qarnul Manazil) Sair Kabir, atau yang lebih tenar lagi disebut Miqot orang-orang yang ingin berbuat umrah atau haji dari Riyadh atau dari negara lainnya yang melewati tempat itu sesuai dengan hadist Nabi kita: “Tempat itu merupakan miqat bagi ahlinya dan bagi yang melewati tempat itu”

Selama perjalanan, tentu yang saya dapatkan hanyalah lembah-lembah, wadi-wadi, yang dikitari oleh gunung-gunung batu, pasir dan kerikil yang sangat silau dipandang mata. Dan yang lebih aneh dari itu, lalat, nyamuk dan semut sulit ditemukan, mungkin karena suhu negeri penuh batu itu  2° hingga 59°. Tapi, Masya Allah, justru memberi kemakmuran tiada tara kepada penduduk yang hidup di dalamnya.

pemandangan riyadh-makkah

Untuk kita yang belum pernah ke negeri ini, jangan sekali kali membayangkan, bahwa gunung gunung itu ditumbuhi pepohonan yang menyejukan mata. Tapi, semua yang bernama gunung di negri ini hanyalah gundukan batu yang menyilaukan mata apalagi kalau dilihat di siang bolong atau di terik matahari.

Dulu saya pernah dengar cerita dari ulama Makkah, ada sebuah gunung berapi yang boleh jadi bisa menumbuhkan rumput dan pepohonan. Gunung itu bernama gunung Al-Harrah Al-Syarqiyyah, letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah yang meletus pada tahun 654 H (1258 M) dan asapnya bisa terlihat sampai kota Makkah.

Sekarang semua yang bernama gunung adalah batu, melulu batu. Apalagi kalau kita lewati kota Thaif melalui jalan Al-Hada atau Sair Kabir, semuanya dikelilingi gunung-gunung batu yang menjulang tinggi. Di samping gunung-gunung batu, pula kita dapatkan angin sahara yang garing dan kering yang menampar muka seperti tamparan serikaan panas di musim kemarau dan tamparan salju di waktu musim dingin.

Tapi, Allah yang Maha Adil dan Bijaksana, justru di balik batu dan tanah yang gersang itu, telah mengeluarkan air yang berlimpah-limpah. Tidak sedikit kita dapatkan mata-mata air dan bir-bir (sumur-sumur) air yang memuncrat tak henti hentinya, seperti Bir Ali, pedasan yang letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah, bir Wadi Fatimah di Makkah, bir tepian lembah Alaqiq dan tentu yang paling top adalah bir Zam Zam di Makkah, yang memiliki kantung-kantung air yang berlimpah-limpah yang tidak akan pernah surut sampai hari kiamat.

Ini semua, kalau kita teliti dengan seksama, berkat doa nabi Ibrahaim, datok Rasulallah saw yang pernah berdiri di kaki gunung disaat akan meninggalkan anaknya Ismail dan istrinya Hajar di lembah yang tandus tidak berumput dan berpohon sambil berdoa:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan solat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur“ Ibrahim 37

mikat-qarnul-manazil-sair-kabir

Di miqat Sair Kabir, saya dan keluarga, berhenti beberapa saat untuk berihram. Waktu sudah mulai senja. Tak lama kemudian terdengar suara adhan Magrib dari menara Masjid Miqat. Disitu kami melalukan solat Maghrib dan Isya jam’a dan Qasr. Setelah itu kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan berangkat ke Makkah Al-Mukarramah yang jaraknya dari Sair Kabir kurang lebih 75 Km atau satu jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Tepatnya, adhan Isya kami sudah bisa melihat tanda-tanda memasuki kota Makkah yang diawali dengan pemandangan 9 menara Masjid teragung di dunia. Baru kali itulah kami merasai keindahan ruhaniah pada sebuah kota kelahiran Nabi saw. “Labaika Allahuma Labaik”. Dia yang telah berkehendak membawa kami ke kota suci yang penuh berkah, Makkah Al-Mukarramah.

Beberapa saat kemudian Masjid yang bermandikan cahaya lampu dan dihiasi dengan 9 menara terasa semakin dekat dari pandangan kami. Bulan sabit (permulaan bulan Jumadil Akhir) nampak jelas di atas masjid. Sambil berulang-ulang menyebut nama Allah “Labaika Allahuma Labaik”, kami tak lepas memandangnya yang membuat kami hanyut ke dalam lautan keindahan dan keberkahan.

Pintu gerbang utama masjid al-Haram yang lebih popular disebut Bab As-Salam, pintu utama yang selalu dilewati Rasulallah saw, tampak anggun dan indah. Pintu itu memiliki keistimewaan dan keutamaan dari pintu pintu yang lain. Pintu itu diberi tanda yang berbeda dari pintu-pintu yang lain. Dari situlah saya dan keluarga memasuki masjid Al-Haram untuk memulai ibadah thawaf.

Thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dimulai dari memberi salam kepada Hajar Aswad dan diakhiri dengan salam pula kepadanya. Untuk mencium batu hitam Hajar Aswad  yang terletak di salah satu pojok dinding Ka’bah, tidak semudah yang kita duga, apa lagi di bulan Haji dan di hari-hari terakhir bulan puasa. Karena ribuan jamaah berdesak-desak yang sama-sama ingin memangfaatkan waktu untuk menciumnya.

Adapun kubus hitam (Ka’bah) tersusun dari batu-batu hitam yang diambil dari bukit bukit di dekat Makkah kemudian dilekatkan dengan semen putih. Kalau kiswah (kelambu) Ka’bah tidak diangkat, batu itu hanya terlihat di lubang kecil sudut Yamani. Ka’bah yang membentuk bangunan segi empat ini, panjangnya sekitar 12 meter, lebarnya kurang lebih 10 meter dan tingginya 16 meter. Sedangkan Ka’bah yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil renovasi Sultan Murad Al Utsmani pada tahun 1630. Sebelumnya terjadi pula pemugaran oleh Nabi Ibrahim 4000 tahun lalu, pula pernah dipugar oleh Abdullah bin Zubair ra.

Setelah Thawaf, kami solat dua raka’at di muka Maqam Ibrahim dan berdoa dengan penuh kekhusyuan di muka Multazam (pintu Ka’bah). Ditempat itulah semua Muslim nampak dengan khusyu’ bersyukur kepada Allah, memohon ampun kepada Nya, serta berdoa untuk segala bentuk kebaikan di hari hari mereka yang mendatang.

Lagi-lagi kebaikan yang muncul dalam hati ketika saya dan keluarga duduk bersila untuk memanjatkan doa dengan pandangan lurus ke arah Ka’bah. Sambil minum air Zam Zam yang berselerakan di mana-mana baik di dalam atau di luar Masjid, semua pikiran terkonsentrasi ke arah doa dan ibadah, lupa dengan hirup pikuk kota Jakarta.

Selesai thawaf, saya dan keluarga melaksanakan sa’i, yaitu berlari kecil dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Lokasi sa’i saat ini sudah berupa lorong yang panjangnya sekitar 375 meter. Sa’i dalam bahasa Arab artinya usaha atau jerih payah, dan yang dimaksud disini adalah usaha Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, untuk mencari air demi menyelamatkan anaknya Ismail yang baru saja lahir di pinggiran Ka’bah. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang yang bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti dilakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah. Kisah ini merupakan kudwah atau teladan bagi kita untuk melakukan apa yang telah dilakukan Siti Hajar sesuai dengan perintah Allah “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya“ – al-Bakarah, 158.

Sa\'i antara Shofa dan MarwaSelesai sa’i di bukit Marwah, kamii mengarah ke Ka’bah untuk berdoa tanda berakhirnya ibadah Umrah. Setelah itu kami bertahalul yaitu menggunting rambut atau mencukurnya. Maka selesailah ibadah Umrah, Ucapan syukur tak henti hentinya kami lakukan yang mana Allah telah berkehendak membawa saya dan keluarga ke kota yang penuh berkah, Makkah Al-Mukaramah.

Bersama-sama dengan lautan manusia kami keluar dari Masjid Agung itu seusai melakukan ibadah umrah dan tentulah pulang ke tempat pemondokan yang letaknya tidak berjauhan dari Haram atau sekitar empat kilometer dari Masjid. Selama tiga hari saya dan keluarga tinggal di kota Makkah, dua kali ibadah umrah saya lakukan dan berkali-kali thawaf dan i’tikaf di Masjid hingga larut malam yang membuat saya tenggelam kedalam lautan keindahan dan keberkahan kota Makkah. Alhamdulillah.

Pada malam terakhri sebelum pulang, saya dan keluarga sempat duduk i’tikaf berjam jam sambil mengarahkan pandangan kami ke arah Ka’bah dan setelah itu kami melakukan thawaf wada’ dan mengucapkan selamat tinggal kepada kota kelahiran Nabi yang tercinta. Disana saya sempat memandang Ka’bah berulang ulang kali. Masjid dan 9 menara berdiri tegak dihiasi dengan sinar lampu yang cemerlang. Sementara ribuan bintang berkedip-kedip bagaikan berlian dan nampak jelas bulan sabit di atas Ka’bah mulai membesar yang ikut serta membuat suasana menjadi indah.

Wallahu’alam
Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Bulan Sabit Di Atas Ka'bah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 40 Comments »

 
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai