Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Komunitas Hidayatullah

Home

Free Web Hosting
Anggota Komunitas:

Selasa, 23 September 2008

Khutbah Idul Fitri 1429 H

KHUTBAH IDUL FITRI 1429

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita bersyukur kepada Allah swt yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati indahnya bulan Ramadhan dan merayakan idul fitri untuk kesekian kalinya.

Sudah puluhan kali idul fitri kita lewati, sudah berbilang Ramadhan kita jalani. Setiap tahun lebaran datang mengunjungi kita membawa kisah suka dan duka. Marilah kita mengenang lebaran yang sudah-sudah, bukankah pernah lebaran datang saat kita dirundung malang, diliputi penderitaan, dan diuji dengan berbagai penderitaan?

Sebaliknya, bukankah lebaran pernah datang di saat kita memperoleh keberuntungan, dipenuhi kebahagiaan, dan dimanjakan berbagai kenikmatan? Suka dan duka datang silih berganti, tapi satu hal yang tidak pernah berubah, bahwa setiap kali lebaran tiba, ada saja di antara sanak saudara, karib kerabat, sahabat, bahkan orangtua kita yang tidak berlebaran bersama kita. Mereka tidak ikut sibuk mempersiapkan idul fitri. Mereka tidak ikut pergi ke tanah lapang. Mereka tidak ikut bertakbir. Kita tidak bisa melihat wajah mereka yang ceria. Kita tidak bisa mengulurkan tangan, menyampaikan salam dan memohon maaf kepada mereka. Kita tidak bisa membahagiakan mereka sekadar memberi oleh-oleh atau makanan kesukaannya. Mereka sudah mendahului kita. Mereka telah pulang ke kampung asalnya, menemui sang Pencipta.

Marilah pada saat-saat seperti ini kita mengenang mereka, sambil mendo’akan mereka:
“Allahumma, ya Allah, masukkanlah kebahagiaan kepada para penghuni kubur. Ya Allah, kasih sayang-Mu meliputi segala sesuatu, ampunilah saudara-saudara kami, ayah ibu kami yang telah kembali mengikuti jalan-Mu, jauhkanlah mereka dari siksa kubur dan siksa api neraka. Masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang Engkau janjikan kepada orang-orang yang shaleh.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Tahun ini mereka telah meninggalkan kita, boleh jadi tahun depan justru kita yang mendapat giliran meninggalkan keluarga, anak, isteri, dan saudara-saudara kita. Hari ini kita menangisi mereka, bisa jadi tahun depan atau bahkan besok hari justru kita yang ditangisi oleh kerabat kita. Setiap hari, setiap saat, maut bisa datang menghampiri kita, menghampiri orang-orang yang kita cintai dan orang-orang yang kita hormati.

Saat pulang dari perang Shiffin, Ali bin Abi Thalib ra menghampiri kuburan di pinggir kota Kuffah, seraya berkata: “Wahai penghuni kampung yang sunyi. Wahai penduduk kampung yang sepi. Wahai orang yang berdiam di kubur yang gelap. Wahai orang yang berbaring di atas tanah, yang terasing, yang sendirian, yang kesepian. Kalian telah mendahului kami, dan insya-Allah kami akan menyusul. Rumah kalian sudah ditinggali orang lain, pasangan kalian sudah menikah lagi, harta kalian sudah dibagi-bagikan. Inilah kabar dari kami, bagaimana kabar dari kalian?”

Sayidina Ali kemudian menoleh kepada para sahabat, “Demi Allah, seandainya mereka diizinkan berbicara, mereka akan berkata: Sesungguhnya bekal yang paling baik adalah taqwa”.

Setiap hari kita bekerja keras, banting tulang, memeras keringat untuk bekal mudik ke kampung halaman hanya untuk beberapa hari lamanya. Tapi kita lupa bekerja keras untuk mempersiapkan bekal mudik ke kampung asal kita, kampung akhirat. Bukan untuk beberapa hari, tapi untuk suatu perjalanan yang jauh dan panjang. Betapa sibuknya kita mempersiapkan masa pensiun yang hanya beberapa tahun saja, sementara kita lupa mempersiapkan masa ribuan tahun setelah ajal menjemput kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Saudara-saudara, kaum muslimin yang berbahagia

Bagi orang yang beriman, kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Rela atau terpaksa, berani atau takut, kematian pasti menjemput kita.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26 dan 27)

“Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imraan: 185)

Kematian itu adalah rencana Tuhan. Tak seorangpun yang mampu menunda atau mempercepatnya.

“Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raaf: 34)

Kalau ada yang ditakuti, bukan kematiannya sendiri. Yang justru harus kita takuti adalah kehidupan setelah mati. Bagaimana nasib kita setelah dihidupkan kembali, apakah kita termasuk orang yang selamat atau celaka? Orang yang beruntung atau orang yang merugi? Masuk surga atau masuk neraka?

Justru karena itulah, Allah swt mendidik kita melalui puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan ini untuk mempersiapkan bekal menempuh perjalanan jauh dan panjang, yaitu bekal taqwa.

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)

Tujuan puasa adalah membentuk insan taqwa. Kalau kita jalani puasa kemarin dengan keyakinan (iman) dan mengharapkan keridhaan Tuhan (ihtisaaban), maka predikat taqwa itu akan kita sandang. Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari)

Pagi ini, melalui shalat dua rakaat yang baru kita laksanakan, Allah swt seakan telah melantik kita menjadi wisudawan Ramadhan. Saat ini, kita adalah alumni-alumni Ramadhan. Bagi yang lalus gelarnya bukan sekadar sarjana, S1, S2, atau S3. Gelar dan predikat yang disematkan kepada kita para wisudawan hari ini adalah “MUTTAQIN”, orang-orang yang betaqwa.
Gelar ini sungguh tidak main-main. Orang yang mendapat gelar ini akan senatiasa dipimpin Allah.

“Allah menjadi Pemimpin orang-orang yang bertaqwa. ” (Al-Jatsiyah: 19)

Mereka juga dijadikan kekasihnya Allah.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imraan: 76)

Kemanapun mereka berada senantiasa disertai Allah.

“Sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 194)

Diberi jaminan akan keselamatan, kesuksesan, dan kejayaan.

“Dan kesudahan yang baik (berupa kemenangan) adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-A’raf: 128)

Harkat, martabat, dan derajatnya diangkat tinggi-tinggi di sisi Allah

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. “(Al-Hujuraat: 13)

Selain keberhasilan, kemenangan, kejayaan, dan kebahagiaan, serta kemuliaan di dunia, orang-orang yang bergelar MUTTAQIN diberi jaminan masuk surga. Adakah tempat yang lebih baik dari surga? Apakah ada pembalasan yang lebih sempurna dari pada jannah?

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik.“ (Shaad: 49)

Andai saja negeri ini dihuni oleh orang-orang yang bergelar taqwa, tentu saja negeri ini akan menjadi negeri yang aman, makmur, dan sejahtera. Allah berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.“ (Al-A’raf: 96)

Allah swt telah menghadiahi kita Negara Indonesia yang alamnya kaya raya. Di dalam perut bumi Indonesia terdapat berbagai sumber daya yang luar biasa. Di laut, di darat, dan di uadara, terdapat berbagai karunia yang tidak saja dapat mensejahterakan anak bangsa, tapi juga cukup untuk menghidupi genarasi di belakang kita. Lalu mengapa rakyat kita miskin? Mengapa puluhan juta rakyat kita masih menderita? Mengapa masih terjadi antrian panjang menunggu pembagian BLT? Mengapa sampai terjadi peristiwa yang mengenaskan saat pembagian zakat di Pasuruan hingga menewaskan 21 orang?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pada kesempatan yang pendek ini, marilah kita melakukan evaluasi diri, apakah kita termasuk golongan orang-orang yang berpredikat muttaqin atau belum? Al-Qur’anul Karim telah menunjukkan tanda-tanda, indikator orang yang bertaqwa:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imraan: 133 – 135)

Menurut ayat tadi, ada empat indikator yang menandai orang yang berpredikat taqwa. Pertama, alladzina yunfiquuna fis-sarrai wa dharra’. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menginfaqkan hartanya di saat lapang maupun sempit. Mereka adalah orang yang mempunyai kecerdasan finansial.

Orang-orang yang memiliki kecerdasan finansial adalah mereka yang pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui kerja keras dan cerdas, lalu pandai pula mengelolanya, termasuk menyisihkan sebagian untuk kaum dhu’afa dan masakin.
Orang yang memiliki kecerdasan finansial tidak saja pandai mengumpulkan uang dan menghimpun kekayaan, lalu menghitung-hitungnya. Mereka mengira dengan kekayaannya itu hidupnya bisa lebih kekal dan bahagia. Tidak, mereka justru hidup menderita sekalipun hartanya melimpah. Mereka, dalam al-Qur’an disebut sebagai orang yang celaka.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (Al-Humazah: 1 – 4)

Allah juga mengecam sikap dan perilaku mereka:

“Bermegah-megahan telah melalikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu).” (At-Takatsur: 1 – 3)

Kepada saudara-saudaraku yang masih belum beruntung secara finasial, yang masih tergolong dhu’afa dan masakin, marilah kita belajar kepada saudara-saudara kita yang telah berhasil untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas lagi. Jangan datangi rumah orang-orang kaya sekadar untuk meminta-minta. Semiskin apapun, kita masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Kekayaan kita adalah kehormatan kita. Kalau kehormatan itu kita lepaskan juga, lalu mana lagi kekayaan kita?

Wahai saudara-saudaraku yang telah beruntung secara finansial, Anda akan selamat jika hak orang-orang miskin yang ada pada sebagian kekayaan Anda telah Anda sisihkan buat mereka. Anda baru disebut memiliki kecerdasan finansial jika Anda mau berinfaq, bershadaqah, dan berzakat. Jangan biarkan tetangga Anda tidak bisa tidur karena kelaparan, sementara Anda pulas tertidur karena kekeyangan. Mari kita berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi harta, berbagi do’a, berbagi cinta dan kasih sayang.

Tanda kedua adalah: wal kaadhimiinal ghaidza (orang-orang yang bisa mengendalikan amarahnya). Dalam bahasa sekarang, mereka adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosianal.

Rasulullah mengajari kita, jika dalam keadaan berpuasa lalu ada orang lain mengajak kita untuk bertengkar atau sekadar berdebat, maka katakan kepada mereka: “maaf, saya sedang berpuasa”. “Inni shaaimun”.

Orang yang kuat, menurut Nabi saw bukanlah orang yang kuat bertarung. Yang disebut orang yang kuat dalam Islam adalah orang yang mampu menahan marah. Islam tidak melarang kita marah. Islam membolehkan kita marah. Yang dilarang adalah marah yang tidak terkendali. Emosi yang meletup-letup tanpa kontrol. Perasaan senang dan benci, perasaan bahagia dan bersedih hati, demikian juga marah adalah sifat alamiah manusia.

Persoalannya, orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi mampu mengendalikan perasaannya sehingga mereka tahu kapan dan dimana bisa mengungkapkan perasaan senang atau ketidak senangannya. Mereka tahu, apakah siatuasinya cocok untuk marah atau tidak. Marah itu normal. Justru orang yang tidak pernah marah itu mempunyai kelainan. Orang yang demikian justru membahayakan, sebab mereka telah kehilangan “rasa”.

Indikator ketiga, wal ‘aafina ‘anin-naas (mudah memaafkan). Dalam istilah sekarang, mereka telah memiliki Kecerdasan Sosial.

Tanda orang yang memiliki kecerdasan sosial itu bisa dilihat dari pergaulannya sehari-hari, apakah mereka diterima masyarakat lingkungannya atau dijauhi? Orang yang memiliki kecerdasan sosial itu mudah bergaul, luwes, dan diterima. Sikapnya tidak arogan, tidak terkesan angkuh dan sombong. Tidak egois dan mau berbagi. Mereka hidup di tengah masyarakat, berbaur, menyatu, dan tidak menyendiri. Rasulullah saw bersabda:

“Mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dalam pergaulan sosial, ada ada saja di antara saudara kita yang perkataannya menyinggung perasaan, sikapnya tidak menyenangkan, dan perbuatannya merugikan. Terhadap mereka, islam mengajarkan agar kita lebih bersabar dan pandai-pandai memaafkan.

Dalam pergaulan sosial, tak bisa dihindari adanya gesekan, persaingan, dan sesekali perebutan. Orang-orang yang lapang dadanya mudah melupakan kesalahan orang lain, mudah memaafkan, dan tidak mendendam. Rasulullah saw bahkan mengajarkan:

“Hubungilah orang yang memutus hubungannya dengan kamu. Berilah (sesuatu) kepada orang yang enggan memberimu. Hindarkan dirimu dari orang yang mendzalimi kamu.” (HR. Ahmad)

Saat ini adalah kesempatan baik bagi kita untuk bersilaturrahim, menyambung kembali tali persaudaraan yang mungkin berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun telah putus. Hubungi kembali sanak saudara, handai taulan, teman dan sahabat lama yang hampir putus hubungan, atau malah dengan sengaja memutus tali silaturrahim dengan kita. Mari kita ulurkan tangan kita untuk meminta maaf dan memaafkan. Jauhkan kebencian, hindari dendam, dan hilangkan permusuhan. Mari kita hadirkan kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan.

Ciri keempat orang yang bertaqwa adalah: idza fa’aluu faakhisatan aw dzalamuu anfusahum dzakarullah fastaghfaruu lidzunuubihim (apabila berbuat kerusakan, mereka segera mengingat Allah, lalu meminta ampun atas kesalahan dan dosanya). Mereka adalah orang-orang yang memiliki Kecerdasan Spiritual.

Orang yang baik, dalam pandangan Islam bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan. Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang sama sekali bebas dari perbuatan dosa. Orang yang bertaqwa adalah mereka yang apabila melakukan kesalahan, perbuatan yang kurang baik, dan melanggar ketentuan, segera mengingat Allah lalu meminta ampun dan bertobat. Mereka segera kembali ke jalan yang benar dan lurus ketika terperosok. Mereka tidak terlalu lama berada dalam kesesatan.
Orang yang memiliki Kecerdasan Spiritual senantiasa mengingat Allah, kapan dan di manapun juga. Ketika hendak memulai sesuatu, mereka mengingat Allah lalu mengucapkan bismillah. Setiap langkahnya diperhitungkan, apakah sesuai dengan syari’at agama? Apakah perbuatan dan tindakannya itu menguntungkan bagi dirinya dan memberi manfaat kepada orang lain? Apakah perilakunya mencerminkan kasih sayang (Rahman dan Rahim)? Ketika pekerjaannya telah usai, tak lupa mereka bersyukur sambil mengucapkan alhamdulillah. Mereka tidak ingin dipuji, sebab mereka sadar bahwa segala puji adalah milik Allah. Hanya Dia yang patut mendapat pujian dan segala bentuk sanjungan. Mereka syukuri semua karunia Allah, lalu bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Wa lillahil hamd

Betapa indahnya gaya dan pola hidup orang-orang yang bertaqwa. Dengan Kecerdasan Finansialnya mereka bisa membantu sesama. Dengan Kecerdasan Emosinya mereka mempunyai mekanisme kontrol diri. Dengan Kecerdasan Sosialnya mereka dapat bermasyarakat. Dan dengan Kecerdasan Spiritualnya mereka sentiasa mensyukuri setiap karunia Allah, baik yang kecil, apalagi yang besar. Dan karunia yang terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah nikmat iman dan islam. Alhamdulillah nikmat itu telah dikaruniakan Allah kepada kita. Untuk itu kita harus pandai-pandai merawat dan menjaganya.

Ya Allah, hari ini kami mengakui bahwa Engkaulah sebesar-besar pemberi karunia. Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah atas bumi yang Engkau hamparkan, atas langit yang Engkau tinggikan, atas gunung-gunung yang Engkau pancangkan, atas alam semesta yang Engkau bentangkan, dan atas bintang-bintang yang Engkau tebarkan.

Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik pemberi nikmat. Kau pancarkan sinar matahari. Kau turunkan air hujan. Kau tumbuhkan pepohonan. Kau hidupkan hewan-hewan.

Ya Allah, ampuni kami. Kami sering lupa mensyukuri hidup kami, mensyukuri waktu dan kesempatan kami, mensyukuri setiap helaan nafas kami, mensyukuri apapun yang Kau berikan kepada kami.

Allahumma ya Allah, alangkah banyak nikmat yang Engkau curahkan kepada kami. Engkau beri kami nikmat iman. Engkau beri kami nikmat Islam, tetapi sedikit syukur kami kepada-Mu.
Wahai Allah yang Maha Bijaksana, ampuni kami yang hanya bersyukur apabila mendapatkan kesehatan, apabila mendapatkan rizki, apabila mendapatkan harta, apabila mendapatkan jabatan, apabila mendapatkan penghargaan, tapi kurang bersyukur jika mampu melaksakan shalat berjama’ah, beribadah, bersedekah, dan berzakat.

Ya Rabb, ajari kami untuk senantiasa mensyukuri hal-hal kecil dalam pandangan kami. Beri kami kekuatan untuk mengajari anak-anak kami untuk senantiasa bersyukur, dan jadikan mereka sebagai ahli syukur.

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, …...............
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaaban-naar.

Selengkapnya >>>

Kamis, 01 Mei 2008

Kuliah Da'i Mandiri Gratis !!

Kuliah Da'i Mandiri Gratis !!

Alhamdulillah setelah sukses menyelenggarakan 2 angkatan Kuliah Dai Mandiri (Tadribudduat) dan telah menyebarkan para alumni ke seluruh penjuru nusantara, kembali Pos Dai Pusat Hidayatullah bekerjasama dengan BMH dan Majalah Sahid, akan menyelenggarakan Kuliah Dai Mandiri angkatan ke III dengan ketentuan sebagai berikut:

Syarat Calon Peserta:
1. Laki-laki
2. Lancar membaca Al-Quran
3. Bisa menulis tulisan arab
4. Lulusan minimal SMA/sederajat
5. Siap mengikuti peraturan selama mengikuti pelatihan
6. Siap ditugaskan ke wilayah diberbagai pelosok Nusantara
7. Lulus test*

Waktu & Tempat Pendaftaran:
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 1 Mei s/d 10 Juni 2008
Tempat Pendaftaran:

1. Pos Da’i Pusat Hidayatullah Jl. Cipinang Cempedak 1/14 Polonia Jakarta Timur 13340 Tlp. 021.8190049 Fax. 021.8574406 E-mail: [email protected]
2. Kantor DPD/DPW Hidayatullah se Indonesia

Pelaksanaan Test & pengumuman
1. Untuk Wilayah Jabotabek ( 11-12 Mei 2008 di kantor Pos Da’i Pusat)
2. Untuk Luar Jabotabek berhubungan dengan pengurus DPD/DPW Hidayatullah setempat.

Waktu dan Tempat Kuliah:
Waktu : 15 Juni s/d 15 September 2008
Tempat : Kampus Pendidikan Hidayatullah Bogor Jawa Barat (Belakang Terminal Laladon)
Check in: 14 Juni 2008

Kontak Person M. Akib Junaid Telp. 021-68600068 Hp. 08128164324

Segera daftarkan, peserta sangat terbatas!!
Selengkapnya >>>

Selasa, 12 Februari 2008

Hasil Poling

Pada tanggal 12 Februari 2008 poling tentang syariat Islam telah kami tutup. Hasil Poling atau jajak pendapat yang Komunitas Hidayatullah adakan dengan tema Setujukah anda jika Syariat Islam diterapkan di Indonesia? menunjukan hasil sebagai berikut.

Dari total Polling atau suara 68 yang masuk:
Yang memilih Setuju Sekali (55) atau sekitar 81%, Setuju (10) atau 15% Ragu-Ragu (0)atau 0%, Tidak Setuju (3) atau 4% dan Tidak Tahu (0) atau 0%
Dari hasil tersebut silahkan anda simpulkan masing-masing.
Selengkapnya >>>

Selasa, 05 Februari 2008

Gadis Australia Pasien Pertama Dunia yang Berubah Golongan Darah

Seorang gadis remaja Australia --Demi-Lee Brennan-- menjadi pasien pertama yang mengubah golongan darahnya dan menerima sistem kekebalan dari donor organnya.

Brennan yang kini berusia 15 tahun menerima transplantasi organ hati pada saat usianya 9 tahun karena organ harinya tidak berfungsi.

"Hal itu adalah kesempatan kedua saya untuk dapat bertahan hidup," kata Brennan kepada media massa setempat ketika menceriterakan bagaimana tubuhnya berhasil menerima dan beradaptasi bedah transplantasi yang dapat dikatakan "Mukjizat" yang datang dari Tuhan. "Sungguh sulit dipercaya."

Golongan darah Brennan mengalami perubahan dari "O" negatif menjadi "O" positif pada saat ia sakit dan diberikan pengobatan untuk menghindari penolakan terhadap organ hati donor oleh sistem kekebalan tubuhnya.

Sel batang pembuluh darah hatinya yang baru memasuki sumsum tulang belakangnya yang mengubah seluruh sistem kekebalan tubuhnya, berarti si remaja Brennan tak lagi memerlukan obat-obatan anti penolakan tubuh.

Para dokter dari Rumah Sakit Anak Westmead di Sydney mengatakan mereka belum dapat memberikan keterangan kasus Brennan yang mengalami kesembuhan, seperti yang mereka sampaikan dalam majalah kedokteran, The New England Journal of Medicine.

"Terus terang kami belum menemukan penjelasan untuk hal itu," kata Michel Stormon seorang ahli hepatologi pediatri seperti dikutip Reuters.

Sturat Dorrney, mantan kepala bagian unit transplantasi di rumah sakit itu mengatakan, kasus Brennan dapat membuka jalan bagi terapi transplantasi organ, karena biasanya sistem kekebalan tubuh pasien penerima menyerang transplantasi jaringan di donor.

"Kini kami harus kembali mengkaji ulang semua tahapan yang terjadi pada Demi-Lee dan melihat mengapa hal itu dapat terjadi dan kalau-kalau dapat melakukan pengulangan kembali," kata Dorney.

"Kami berpikir hal itu mungkin karena kami menggunakan organ hati dari seseorang yang usianya masih muda dan Demi-Lee memiliki sel darah putih dalam jumlah rendah mungkin karena dua faktor itulahyang menjadi alasan," katanya kepada harian Daily Telegraph.

Penolakan tubuh umumnya ditangani dengan kombinasi obat-obatan walaupun penolakan kronik tidak terjadi dua arah (bolak-balik).

Hanya tujuh dalam 10 operasi transplantasi di Australia yang berhasil setelah lima tahun berselang yang dikarenakan oleh penolakan tubuh di pasien. *Antara.co.id
Selengkapnya >>>

Kamis, 24 Januari 2008

Pengacara Amrozi dkk Akan Datangi PN Cilacap

Tim Pembela Muslim (TPM) selaku pengacara tiga terpidana mati kasus Bom Bali I (Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra) akan mendatangi Pengadilan Negeri Cilacap pada Kamis (24/1).

"Kami akan mendatangi PN Cilacap untuk menanyakan apakah surat-surat (Salinan Putusan Mahkamah Agung tentang Penolakan Peninjauan Kembali) yang diberikan kepada klien kami sudah diperbaiki atau belum," kata Koordinator TPM, Achmad Michdan saat dihubungi ANTARA News dari Cilacap, Rabu (23/1).
T
Menurut dia, surat-surat yang penyerahannya didelegasikan kepada PN Cilacap tidak layak sebagai suatu dokumentasi hukum.

Namun sebelumnya, kata dia, TPM akan menemui Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra yang saat ini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap.

"Kami akan melakukan koordinasi dengan mereka mengenai hasil pembicaraan pada pertemuan sebelumnya," kata dia.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, Senin (7/1), tiga terpidana mati kasus Bom Bali I melalui kuasa hukumnya menolak salinan putusan tersebut.

"Kami menolaknya dan hal itu sangat tidak profesional dan tidak dipertanggungjawabkan," kata Michdan usai menemui tiga terpidana tersebut.

Menurut dia, salinan putusan tersebut bukan salinan asli yang dilegalisasi melainkan hanya foto kopi biasa sehingga tidak layak sebagai suatu dokumentasi hukum.

Ia mengatakan, tidak seharusnya salinan putusan yang diserahkan seperti itu, apalagi kasus tersebut diperhatikan internasional.

Untuk itu, kata dia, TPM telah membuat berita acara yang isinya meminta supaya diberikan salinan putusan yang resmi dan dapat dipertanggungjawabkan untuk diserahkan kepada kuasa hukum terpidana atau langsung kepada mereka dengan didampingi kuasa hukumnya.

Ia mengatakan, sudah menyiapkan surat-surat untuk disampaikan kepada Komisi Yudisial, Mahkamah Agung, maupun Pengadilan Negeri Denpasar.

Menurut dia, ada juga surat yang ditujukan kepada Majelis Ulama Indonesia untuk meminta fatwa tentang pelaksanaan hukuman mati.

Dia mengatakan, surat untuk MA tersebut mungkin dapat disebut sebagai PK kedua meskipun hal itu tidak ada.

"Memang tidak ada PK kedua, tapi dalam praktiknya ada PK yang dua kali disidangkan, misalnya kasus Tibo," katanya.

Menurut dia, kasus PK Amrozi dan kawan-kawan (dkk) belum dijalankan melalui proses persidangan yang benar.

Bahkan, salah satu pengacara TPM, Fahmi H Bachmid memastikan Amrozi dkk akan mengajukan PK lagi. "Yang jelas, kami pasti mengajukan PK lagi, tapi jangan tanya kapan dan dimana, karena nanti kami yang repot," kata dia di Surabaya, Rabu (23/1).*Antara
Selengkapnya >>>

Senin, 21 Januari 2008

Penelitian: 30% Pelajar Sukabumi Diduga Lakukan Seks Bebas

Hasil penelitian Dinas Kesehatan setempat, sepanjang tahun 2007, 30% pelajar Sukabumi diduga lakukan seks bebas. Dianggap sebagai bentuk pergaulan biasa. Sebanyak 30 persen pelajar di Kota Sukabumi, Jawa Barat, diduga telah melakukan seks bebas. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat sepanjang tahun 2007.

Umumnya, para remaja ini menganggap prilaku seks bebas sebagai gaya hidup atau bagian dari pergaulan. Perilaku ini diduga sebagai salah satu pemicu tingginya kasus penyebaran HIV Aids di Kota Sukabumi selama tujuh tahun terakhir yang mencapai 206 kasus.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) dr Rita Fitrianingsih mengatakan, perilaku seks bebas ini telah melibatkan pelajar yang bukan hanya berasal dari tingkat SMU saja tapi juga kalangan pelajar SMP.

Tingginya prilaku seks bebas ini, telah ikut memicu peningkatan jumlah kasus penyebaran Aids yang mampu mencapai 206 kasus, di samping akibat penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna narkoba. Sebab, kata Rita, kedua perilaku tersebut memiliki keterkaitan dalam hal kasus penyebaran Aids.

"Penelitian yang kami lakukan dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat, menunjukan perilaku seks bebas ini telah dianggap sebagai pergaulan bagi kalangan pelajar. Ini jelas menjadi kerisauan bagi para orangtua sebab perilaku tersebut sangat rawan terjadinya penyebaran penyakit menular," kata Rita Fitrianingsih kepada wartawan usai mengikuti seminar sehari tentang bahaya HIV/Aids di Aula pertemuan Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Kota Sukabumi, Ahad (20/1/2008).

Lebih lanjut Rita menjelaskan, jumlah kasus pengguna narkoba sepanjang tahun 2007 mencapai 900 orang. Dari jumlah itu, 90 persen pengguna yang telah menjalani rehabilitasi di antaranya, diketahui telah kembali aktif menggunakan narkoba. Hal ini diduga akibat tingginya distribusi narkoba di wilayah Kota Sukabumi.

Masih ditahun 2007, dinas kesehatan kembali menemukan kasus baru dalam hal penyebaran virus HIV Aids, yakni sebanyak 44 kasus. Jumlah temuan kasus baru ini, tutur Rita, jauh lebih rendah dari jumlah temuan kasus baru pada tahun 2006 yang mencapai 94 kasus.

"Untuk temuan baru kasus HIV Aids pada tahun 2007 sebanyak 44 kasus dengan kasus kematian sebanyak 24 kasus. Angka temuan kasus baru itu lebih rendah ketimbang temuan kasus pada tahun 2006. yang mencapai 94 kasus. Secara akumulasi jumlah penderita HIV Aids selama tahun 2000-2007 mencapai 206 kasus," papar Rita.
Untuk meminimalisir dampak buruk narkoba, Dinas kesehatan Kota Sukabumi tengah menjalankan program pertukaran jarum suntik atau Needle Exchange. *www.hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Selasa, 15 Januari 2008

Memimpin Dengan Kesederhanaan

Sa’ad bin Al-Jamhi pernah diprotes rakyatnya karena selalu terlambat masuk kantor. Itu, karena ia tak memiliki pembantu dan harus membantu istrinya memasak. Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kaum Muslimin segera mencari pengganti untuk melanjutkan kepemimpinan Islam.
Ketika itu Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu memegang tangan Umar bin Khaththab Ra dan Abu Ubaidah bin Jarrah Ra sambil mengatakan kepada khalayak, “Salah satu dari kedua orang ini adalah yang paling tepat menjadi khalifah. Umar yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang dengannya Allah memuliakan Islam dan Abu Ubaidah yang dikatakan Rasulullah sebagai kepercayaan ummat ini.”

Tangan Umar gemetar mendengar kata-kata Abu Bakar itu, seakan ia kejatuhan bara yang menyala. Abu Ubaidah menutup mukanya dan menangis dengan rasa malu yang sangat. Umar bin Khaththab lalu berteriak, “Demi Allah, aku lebih suka dibawa ke depan lalu leherku ditebas walau tanpa dosa, daripada diangkat menjadi pemimpin suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar.”

Pernyataan Umar ini membuat Abu Bakar terdiam, karena tidak mengharapkan dirinya yang ditunjuk menjadi khalifah. Dia menyadari dirinya sangat lemah dalam mengendalikan pemerintahan. Tidak setegas Umar, dan tidak sebijak Abu Ubaidah.

Tapi akhirnya pikiran dan perasaan semua orang terarah kepada Abu Bakar. Karena dialah sesungguhnya yang paling dekat ditinjau dari berbagai aspek untuk menduduki jabatan khalifah yang teramat berat ini.

Seabrek alasan dapat dikemukakan untuk menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dialah yang dianggap paling dekat dengan Rasulullah dan paling kuat imannya sesuai pernyataan Nabi, “Kalau iman seluruh ummat Islam ditimbang dengan iman Abu Bakar, maka lebih berat iman Abu Bakar.”

Maka terangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Nabi Saw. Saat pertama kali Abu Bakar menginjakkan kaki di mimbar Rasulullah, ia hanya sampai pada anak tangga kedua dan duduk di situ tanpa berani melanjutkan ke anak tangga berikutnya, sambil berpidato, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku diangkat menjadi pemimpin kalian, tapi aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat kesalahan maka luruskanlah aku. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di sisiku, hingga aku berikan hak kepadanya. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika aku durhaka, janganlah kalian taat kepadaku.”

Sang khalifah berusaha menjaga wibawa kepemimpinan. Tapi dalam kedudukannya sebagai seorang pemimpin dia berusaha meyakinkan orang yang di bawah kepemimpinannya bahwa jabatan adalah amanah yang menuntut tanggung jawab, bukan penguasaan. Penguasa adalah satu orang di antara ummat, bukan ummat dalam satu orang. Abu Bakar tidak menginginkan karena jabatan, dia jadi jauh dengan ummat. Sebaliknya, dia ingin semakin dekat dengan mereka. Terhadap ketentuan Nabi dia menyatakan, “Saya lebih rela diterkam serigala daripada merubahnya.”

Demikianlah gambaran ketegangan yang terjadi pada waktu pemilihan jabatan. Semua orang menolak jabatan, padahal kapasitas para sahabat sangat memadai untuk memegang kekuasaan.

***

Ketika Abu Bakar wafat, Umar bin Khaththab disepakati tampil sebagai pengganti. Umar yang memegang amanah selama dua pelita (10 tahun) 6 bulan dan 4 hari berhasil menggurat sejarah yang merubah peta dunia.

Lelaki perkasa yang digambarkan kekuatannya saat menentang Islam di zaman jahiliyah sama dengan kekuatan seluruh kaum Quraisy, telah tampil dengan perkasa pula di zaman Islam membela kebenaran, membayar dosa-dosa jahiliyahnya.

Dia larutkan dalam pengabdian mewujudkan pemerintah yang bersih dan bertanggung jawab. Kontrolnya berjalan efektif, sehingga seluruh rakyatnya tidak ada yang luput dari perhatiannya.

Ketika penduduk pinggiran kota kena paceklik, Umar sendiri yang memikul gandum di pundaknya, lalu mengantarkan ke rakyatnya yang tengah dilanda kelaparan. Lalu penduduk itu segera dipindahkan ke kota untuk mempermudah pemantauannya.

Suatu malam di kota Madinah kedatangan kafilah yang membawa barang dagangan. Diajaknya Abdurrahman bin Auf menemani penjaga kafilah itu semalam suntuk. Tapi tidak jauh dari tempat kafilah itu ada bayi yang selalu menangis, tidak mau diam. Umar berulangkali menasihati bahkan memarahi ibunya karena tidak dapat mendiamkan anaknya.

Ibu sang anak itu lalu berkomentar bahwa, “Inilah kesalahan Umar karena hanya anak yang tidak menyusui yang diberi tunjangan, sehingga anak yang usianya baru beberapa bulan ini terpaksa saya sapih.” Umar sangat terpukul mendengar kata-kata ibu itu.

Ketika menjadi imam shalat Subuh, bacaan ayatnya tidak jelas karena diiringi tangis. Usai shalat langsung diumumkan bahwa seluruh anak kecil mendapat tunjangan dari baitul mal, termasuk yang masih menyusu.

Tegas dan Sederhana

Prinsip ketegasan dan kesederhanaan dipegang kuat oleh Umar. Para gubernur yang bertugas di daerah cukup kewalahan dengan sikap itu. Pernah Amru bin Ash, gubernur yang sangat berjasa menaklukkan Mesir, diberi hukuman cambuk karena seorang rakyat Mesir melapor bahwa dirinya pernah dipukul sang Gubernur. Orang yang melapor itu sendiri yang disuruh memukulnya.

Pernah juga Abdulah bin Qathin, seorang gubernur yang bertugas di Hamash, dilucuti pakaiannya lalu disuruh menggantinya dengan baju gembala, kemudian disuruh menggembala domba beberapa saat. Sebelumnya ada yang diperintahkan membakar pintu rumahnya, karena salah seorang rakyatnya bercerita setelah ditanya oleh Umar tentang keadaan gubernurnya. Dia menjawab, “Cukup bagus, hanya sayangnya karena dia mendirikan rumah mewah.”

Kemudian gubernur itu disuruh memasang kembali bajunya dan dipesan, “Kembalilah ke tempat tugasmu tapi jangan berbuat demikian lagi. Saya tidak pernah memerintahkan engkau membangun rumah besar,” tegas Umar.

Sebaliknya, terhadap gubernurnya yang sederhana, Umar sangat sayang. Seperti yang dilakukannya terhadap Sa’ad bin Al-Jamhi yang diprotes rakyatnya karena selalu terlambat membuka kantornya, tidak melayani rakyatnya di malam hari dan tidak membuka kantor sehari dalam seminggu. Itu dilakukan karena Sa’ad tidak memiliki pembantu sehingga dia membantu istrinya membuatkan adonan roti. Nanti setelah adonan itu mengembang, barulah berangkat ke kantor.

Sa’ad tidak melayani rakyatnya di malam hari karena waktu itu digunakan untuk bermunajat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sengaja tidak membuka kantor sehari dalam seminggu kecuali di sore hari karena ia harus mencuci pakaian dinas dan menunggu hingga kering.

Kalau di zaman sekarang, model kepemimpinan seperti ini mungkin dianggap tidak efektif. Orang menyebutnya manajemen tukang sate, yakni harus mengiris daging sendiri, menusuk sate, dan membakarnya sendiri.

Tentu letak perbedaannya ada pada pola pikir dan cara pandang. Para sahabat Nabi sangat takut terhadap pertanggungjawaban di akhirat. Sekecil apapun persoalan ummat menjadi perhatiannya.

Berbeda dengan kebanyakan kepemimpinan saat ini dengan prinsip yang penting ada pembagian tugas, lalu pandai membuat laporan. Tidak peduli laporan itu fiktif atau bukan. Ditambah dengan lemahnya kontrol dan pemantauan, maka dimana-mana terjadi penyelewengan.

Mantan Wakil Presiden Adam Malik pernah bertutur, “Semua bisa diatur.” Artinya di depan umum selalu berbicara tentang supremasi hukum, namun dalam kenyataannya berpura-pura.
Ini akibat tidak takut kepada Allah. Baginya bukan siksaan di akhirat yang mengerikan , tapi hanya risiko dunia.

Orang seperti ini terkadang menantang-nantang akhirat segala. Inilah yang dimaksudkan ayat Allah dalam surat Az-Zumar ayat 45: “Dan apabila nama Allah yang disebut, kesallah orang-orang yang tidak percaya terhadap keberadaan akhirat. Tetapi apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, mereka tiba-tiba merasa gembira.”

Sungguh dapat kita bayangkan seperti apa nasib negeri kita kalau orang-orang yang duduk di puncak kekusaan memiliki orientasi berpikir seperti itu. Sangat mengerikan.

Sungguh tidak keliru bila ummat di zaman kini kembali berkaca kepada kesederhanaan sahabat. Alangkah mulianya pribadi Umar bin Khaththab yang membuat peraturan untuk para gubernurnya:

1. Jangan memiliki kendaraan istimewa

2. Jangan memakai pakaian tipis (halus dan mahal harganya)

3. Jangan makan-makan yang enak-enak

4. Jangan menutup rumahmu bila orang memerlukanmu

Semua itu dimaksudkan agar para gubernur dapat merasakan apa yang dirasakan oleh yang dipimpinnya.
Semoga pemimpin di negeri ini dapat merenungi beratnya tanggung jawab memegang amanah rakyat. Bila tidak, bisa jadi akan diadili oleh mahkamah sejarah. Lebih mengerikan lagi tuntutan tanpa pembela di mahkamah akhirat nanti.

*Manshur Salbu. Diambil dari Rubrik “Hikmah” di Majalah Hidayatullah/ www.hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Rabu, 09 Januari 2008

Depdiknas Tawarkan Beasiswa bagi 2.500 Dosen

Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), menawarkan beasiswa bagi 2.500 dosen perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia.

Program beasiswa itu disosialisasikan Dirjen Dikti Depdiknas, Fasli Jalal, melalui teleconference "Coffee Morning with DGHE Perdana 2008" di 48 PT se-Indonesia, diantaranya di Rektorat ITS Surabaya, Selasa.

Acara yang dihadiri para pimpinan perguruan tinggi, dekan, dan dosen yang berminat itu, merupakan kali ketiga yang dilakukan Dirjen Dikti Depdiknas dengan PTN/PTS se-Indonesia, setelah sebelumnya "teleconference" peluncuran Program BERMUTU untuk peningkatan kualitas guru.

Dalam kesempatan kali ini, Dirjen Dikti Depdiknas menawarkan kesempatan belajar ke luar negeri bagi dosen untuk menempuh pendidikan jenjang S2 dan S3, dengan target awal 2.500 beasiswa yang dibagi menjadi dua gelombang.

Untuk gelombang pertama berjumlah 1.500 beasiswa yang diserahkan pada tahun 2008 dan sisanya 1.000 beasiswa akan diberikan pada tahun 2009. Dari 1.500 beasiswa tahun 2008 baru 597 yang terisi, sehingga masih ada lebih dari 900 beasiswa yang belum terisi.

"Silahkan dosen-dosen dari berbagai program studi di perguruan tingggi mengajukan beasiswa ke perguruan tinggi yang dituju," kata Fasli Jalal dalam "teleconference" itu.

Dia juga menambahkan, dosen pelamar beasiswa harus memperhatikan apakah perguruan tinggi luar negeri yang dituju itu telah terakreditasi atau belum, karena hal itu menjadi tujuan dari program beasiswa Dikti itu.

Dalam "teleconference" yang berlangsung selama dua jam tersebut, Rektor ITS, Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD juga menyampaikan beberapa pendapat dalam sesi diskusi.

Orang nomor satu di ITS itu mengatakan, Dikti hendaknya juga memberikan porsi untuk bidang ilmu "science", karena ilmu itu sangat menunjang untuk bidang aplikatif lainnya.

"Kami juga sepakat bahwa pengiriman dosen untuk mengikuti beasiswa luar negeri, dikarenakan adanya kearifan lokal --kebutuhan daerah--," katanya.(*Antara.co.id)

Selengkapnya >>>

Jumat, 04 Januari 2008

Waspadi Penggunaan Ponsel Pada Anak

Menteri Kesehatan Perancis keluarkan peringatan untuk mengurangi penggunaan ponsel pada anak-anak. Di Indonesia, sering disalahgunakan untuk pornografi. Menteri Kesehatan Prancis mengeluarkan sebuah peringatan untuk mengurangi penggunaan ponsel, khususnya di kalangan anak-anak. Upaya ini untuk mengantisipasi segala penyakit dan kemungkinan negatif lainnya akibat penggunaan ponsel.

"Seseorang sebaiknya menggunakan ponsel dengan pertimbangan yang tepat, tidak menelepon saat berkendara dalam kecepatan tinggi, dan jauhkan ponsel dari area sensitif tubuh dengan menggunakan hands-free," imbau Menteri Kesehatan Perancis Roselyne Bachelot-Narquin.

Lebih lanjut, Roselyne mengatakan bahwa ponsel memang berguna bagi anak-anak, tapi sebaiknya orang tua memperhatikan frekuensi penggunaannya.

"Saat ini sulit rasanya melarang penggunaan ponsel pada anak, tapi sebaiknya orang tua selalu memperingatkan tentang penggunaannya," tukasnya.

Sebuah laporan yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO) pada November 2006 mengungkap bahwa penggunaan jangka panjang frekuensi radio dan radiasi dari ponsel tidak merugikan kesehatan.

Meski demikian, WHO juga mengakui bahwa ada penelitian lain yang menunjukkan adanya peningkatan risiko terkena tumor bagi orang-orang yang menggunakan ponsel analog selama lebih dari 10 tahun.

AFSSET Perancis, sebuah lembaga pengawas kesehatan independen yang didanai oleh pemerintah menganjurkan orang tua untuk tidak memberikan ponsel kepada anaknya yang masih kecil.

"Jika anak belum mampu mengontrol penggunaan ponsel, sebaiknya orang tua tidak membelikannya (ponsel-red.)," tandas Michele Froment-Vedrine, kepala AFSSET sebagaimana dikutip Straitstimes.

Jika Perancis memperingatkan dampak penggunakan pemakaian ponsel pada anak-anak, di Indonesia lain lagi. Beberapa anak sering menyalahgunakan ponsel untuk kegiatakan pornografi. Sayangnya, tak semua orangtua mengontrol aktivitas anak-anak mereka menyangkut persoalan ini. *Hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Rabu, 26 Desember 2007

Mitos-mitos Tentang Perayaan Natal Bersama

Untuk tujuan ‘kerukunan beragama’ lahirnya mitos-mitos “idul fitri bersama”, “doa bersama” atau “Natal bersama”. Ibnu Taimiyyah, menyebutnya bentuk ‘munafik’

(Kritik terhadap Pendapat Prof. Dr. Din Syamsuddin)

Oleh: Adian Husaini*

Pada tanggal 25 Desember 2007, saat sedang berada di Palembang, saya menerima banyak SMS yang bernada prihatin, bahwa Prof. Dr. Din Syamsuddin, selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah, akan menghadiri acara Perayaan Natal Bersama (PNB) pada 27 Desember 2007. Selama di Palembang, saya tidak sempat mengecek kebenaran berita itu. Barulah pada Rabu (26 Desember 2007) pagi ini, saya sempat mengecek berita tersebut. Setelah menerima sebuah SMS tentang duduk cerita rencana kehadiran Din Syamsuddin dalam acara PNB tersebut, saya kemudian merasa perlu menulis artikel seputar PNB ini, untuk mengoreksi beberapa logika Din Syamsuddin. Sekitar tiga tahun lalu, pada 24 Desember 2004, saat tinggal di Kuala Lumpur, saya sudah menulis Catatan Akhir Pekan ke-83, dengan judul yang sama dengan artikel ini.

Bagi saya pribadi, pernyataan dan pemikiran Din Syamsuddin tentang PNB memang agak mengejutkan. Artikel ini sama sekali tidak bermaksud meragukan keimanan Din Syamsuddin sebagai seorang Muslim. Saya kenal beliau sangat lama, dan sampai detik saya menulis artikel ini, saya masih percaya akan komitmen yang tinggi Din Syamsuddin sebagai seorang Muslim. Sekarang, saya juga duduk sebagai pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan di pengurus MUI Pusat. Tentu saya sebenarnya tidak ingin tulisan ini dibaca secara terbuka.

Akan tetapi, karena Din Syamsuddin sudah mempublikasikan pemikirannya secara luas dan terbuka, maka menjadi kewajiban saya untuk menjawab logika-logika Din Syamsuddin secara terbuka pula. Sebab, ini sudah menyangkut urusan Islam, bukan hanya urusan Muhammadiyah atau MUI. Juga, logika seperti ini, sudah sering dikemukakan oleh berbagai pihak. Jadi, ini adalah bagian dari kewajiban untuk melakukan taushiyah antar sesama Muslim. Dan ini sangat penting, karena kekeliruan pemikiran seorang pemimpin agama – apalagi yang bergelar Prof. Dr. -- dapat berakibat fatal, karena dianggap sebagai rujukan kebenaran. Rasulullah saw bersabda bahwa ”Mimmaa akhaafu ‘alaa ummatiy zallatu ‘aalimin wa jidaalu munaafiqin fil Quraani.” (Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan menimpa umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Quran.” (HR Thabrani dan Ibn Hibban). Saya berpendapat, bahwa dalam soal PNB ini, Pak Din Syamsuddin sedang tergelincir pemikirannya, dan mudah-mudahan bersedia meluruskannya kembali.

Situs www.detik.com, (24/12/2007 15:32 WIB), menulis berita berjudul ”Din Tidak Larang Hadiri Perayaan &Ucapkan Selamat Natal”. Ditulis dalam berita ini: ”Bagi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menghadiri seremonial Natal tidak seharusnya dihindari. Demikian pula dengan memberikan ucapan selamat Natal kepada kaum Kristiani. "Saya pribadi berpendapat fatwa MUI sejak zaman Buya adalah larangan menghadiri upacara Natal yang berdimensi ibadah dan keyakinan karena itu wilayah keyakinan masing-masing. Tetapi yang berbentuk seremoni tidak seharusnya terhindari," kata Din.

Hal ini disampaikan Din usai menerima kunjungan panitia Perayaan Natal Nasional 2007 di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Senin (24/12/2007). Din pun mengaku bersedia menghadiri perayaan Natal Nasional yang akan digelar pada 27 Desember 2007 mendatang.

Juga diberitakan detik.com, bahwa dalam kesempatan itu, Ketua Umum Panitia Perayaan Natal Nasional, Mari Elka Pangestu mengharapkan Din hadir dalam acara tersebut. "Kita berharap perayaan Natal bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Kita juga sudah menyampaikan berbagai bantuan ke berbagai daerah seperti sembako di NTT dan penanaman 50 ribu pohon di Cipularang," ujarnya, seperti dikutip detik.com.

Sebenarnya, di dalam Muhammadiyah sendiri, masalah ”Perayaan Natal Bersama” dan soal ”Mengucapkan Selamat Natal” sudah selesai dibahas. Di dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI.

Adapun soal ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.
Fatwa yang Digugat

Secara umum, kita akan mengupas logika yang menganjurkan perlunya PNB dalam paparan berikut ini. Seperti dikutip dalam berita itu, Mari Elka Pangestu berharap, Din Syamsuddin akan hadir dalam acara PNB, dan dia pun berharap, perayaan Natal bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Kita maklum, selama ini tidak mudah mengajak tokoh Islam untuk hadir dalam PNB, karena terganjal oleh Fatwa MUI tentang PNB. Karena itulah, sejak diterbitakannya fatwa MUI tentang PNB, tahun 1981, fatwa itu sudah menuai kritik yang tiada habis-habisnya. Ada yang mengkritik secara terbuka dan ada juga yang tidak setuju secara diam-diam.

Karena itu, kita perlu menelaah masalah PNB ini secara mendasar. Ketika fatwa itu dikeluarkan, saya sedang duduk di bangku kelas 1 SMA di Bojonegoro. Saya mengikuti perdebatan tentang fatwa itu dari kampung saya, Desa Kuncen-Padangan-Bojonegoro, melalui majalah Panji Masyarakat, yang dilanggan ayah saya (almarhum, seorang guru SD yang juga Pengurus Muhammadiyah Padangan). Dari majalah ini, hampir tidak pernah saya lewatkan membaca rubrik Dari Hati ke Hati asuhan Buya Hamka.

Seperti kita ketahui, Hamka kemudian memilih untuk mengundurkan diri sebagai ketua MUI, ketimbang menarik kembali peredaran fatwa itu, sebagaimana diminta oleh Menteri Agama ketika itu Alamsyah R. Perwiranegara. Saya masih ingat, saya menitikkan air mata, ketika membaca tulisan Hamka tentang pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum MUI. Ketika itu, saya berpikiran, ”Beginilah seharusnya seorang ulama: luas ilmunya dan kokoh pendiriannya!” Di kalangan Muhamamdiyah sediri, Hamka sangat dihormati, sehingga namanya diabadikan menjadi sebuah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, di Jakarta. Sayang sekali, akhir-akhir ini ada sejumlah buku dan artikel yang mencoba ’memelintir’ pendapat-pendapat Hamka, sehingga seolah-olah Hamka adalah seorang penganut paham Pluralisme Agama.

Maka, saya senantiasa merasa amat sangat sedih dan pilu, ketika ada diantara orang-orang Muhammadiyah atau MUI sendiri yang kemudian menggugat atau menyalahpahami fatwa ini. Jika gugatan atau kesalahpahaman terhadap fatwa PNB itu datang dari kaum liberal atau non-Muslim, masih bisa dipahami. Terakhir, misalnya, Luthfi Asyaukanie, yang menyebut dirinya sebagai ’Koordinator Jaringan Islam Liberal’, dalam artikelnya yang berjudul ”Sikap Negara terhadap Aliran Sesat” (Koran Tempo, 22 Desember 2007), menulis: ”Majelis Ulama Indonesia berkali-kali meresahkan masyarakat dengan fatwa-fatwa mereka (fatwa menghadiri perayaan Natal, misalnya).”

Jadi, fatwa PNB ini oleh kaum liberal senantiasa diposisikan sebagai fatwa yang meresahkan masyarakat. Dan seperti biasa, menjelang perayaan Hari Natal, 25 Desember, ada saja sebagian kalangan yang kembali menggugat fatwa MUI tentang “haramnya seorang Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama.” Ada yang menyatakan, bahwa yang melarang PNB atau yang tidak mau menghadiri PNB adalah orang yang tidak toleran, eksklusif, tidak menyadari pluralisme, tidak menghargai multikulturalisme, tidak mau berta’aruf, dan sebagainya. Padahal orang Islam disuruh melakukan ta’aruf (QS 49:13). Banyak yang kemudian berdebat tentang “boleh dan tidaknya” menghadiri PNB, tanpa menyadari, bahwa sebenarnya telah banyak diciptakan mitos-mitos seputar apa yang disebut PNB itu sendiri.

Marilah kita telaah mitos-mitos tersebut:

PERTAMA, mitos bahwa PNB adalah keharusan. Mitos ini seperti sudah begitu berurat berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu. Padahal, bisa dipertanyakan, dalam tataran kenegaraan, apa memang perlu diadakan PNB? Untuk apa? Jika PNB perlu, bahkan dilakukan pada skala nasional dan dijadikan acara resmi kenegaraan – yang mengharuskan Presiden menghadirinya -- maka perlukah juga diadakan WB (Waisak Bersama), NB (Nyepi Bersama), IFB (Idul Fithri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), IMB (Isra’ Mi’raj Bersama), IB (Imlek Bersama). Jika semua itu dilakukan, mungkin demi alasan efisiensi dan pluralisme beragama, akan ada yang usul, sebaiknya semua umat beragama merayakan HRB (Hari Raya Bersama), yang menggabungkan hari raya semua agama menjadi satu. Di situ diperingati bersama kelahiran Tuhan Yesus, peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw, dan kelahiran dewa-dewa tertentu, dan sebagainya.

Keharusan PNB sebenarnya adalah sebuah mitos, khususnya kata ”Bersama”. Jika kaum Kristen merayakan Natal, mengapa mesti harus melibatkan kaum agama lain? Ketika itu mereka memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka mengapa mesti mendorong-dorong umat agama lain untuk mendengarkan cerita tentang Yesus dalam versi Kristen? Mengapa doktrin tentang Yesus sebagai juru selamat umat manusia itu tidak diyakini diantara pemeluk Kristen sendiri?

Di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, seperti Indonesia, wacana tentang perlunya PNB adalah sebuah ’keanehan’. Kita tidak pernah mendengar bahwa kaum Kristen di AS, Inggris, Kanada, Australia, misalnya, mendiskusikan tentang perlunya dilaksanakan IFB (Idul Fithri Bersama), agar mereka disebut toleran. Bahkan, mereka tidak merasa perlu menetapkan Idul Fithri atau Idul Adha sebagai hari libur nasional. Padahal, di Inggris, Kanada, dan Australia, mereka menjadikan 26 Desember sebagai “Boxing Day” dan hari libur nasional. Selain Natal, hari Paskah diberikan libur sampai dua hari (Easter Sunday dan Esater Monday). Di Kanada dan Perancis, Hari Natal juga libur dua hari. Hari libur nasional di AS meliputi, New Year’s Day (1 Januari), Martin Luther King Jr Birthday (17 Januari), Washingotn’s Birthday (21 Februari), Memorial Day (30 Mei), Flag Day (14 Juni), Independence Day (4 Juli), Labour Day (5 September), Columbus Day (10 Oktober), Veterans Day (11 November), Thanksgiving’s Day (24 November), Christmas Day (25 Desember).

KEDUA, mitos bahwa PNB bertujuan membina kerukunan umat beragama. Mitos ini begitu kuat dikampanyekan, bahwa salah satu cara membina kerukunan antar umat beragama adalah dengan menghadiri PNB, sehingga orang yang menolak untuk menghadiri PNB dipersepsikan sebagai orang yang tidak toleran dan tidak mau rukun. Padahal, dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, bahwa Yesus adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16). Dalam dokumen Konstitusi Dogmatik tentang Gereja (Lumen Gentium, 14) yang disahkan pada 21 November 1964, dalam Konsili Vatikan II, disebutkan: ”Karena satu-satunya Perantara dan jalan keselamatan adalah Kristus, yang hadir di antara kita di dalam Tubuhnya yaitu Gereja... Oleh karenanya tidak dapat diselamatkan orang-orang itu, yang walaupun tahu bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Allah dengan perantaraan Yesus Kristus, sebagai sesuatu yang diperlukan, toh tidak mau masuk ke dalamnya atau tidak mau bertahan di dalamnya.” (Terjemah oleh Dr. J. Riberu, Dokpen MAWI, 1983).

Sementara itu, dalam Islam, kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan atau anak Tuhan dipandang sebagai satu kekeliruan yang amat sangat serius -- satu kepercayaan yang dikritik keras oleh Al-Quran. (QS 5:72-73, 157; 19:89-91, dsb). Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak, adalah satu “Kejahatan besar” (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam Al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasanya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak.” (QS 19:90-91).

Prof. Hamka menyebut tradisi Perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau membangun toleransi, tetapi menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka menulis tentang usulan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fithri bersama, karena waktunya berdekatan:

“Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan Al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan Al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Pada hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.”

Demikian kutipan tulisan Prof. Hamka yang ia beri judul: “Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme.” (Lihat, buku Hamka, Dari Hati ke Hati, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002).

KETIGA, mitos bahwa dalam PNB orang Muslim hanya menghadiri acara non-ritual dan bukan acara ritual. Dalam ungkapan Din Syamsuddin: "Saya pribadi berpendapat fatwa MUI sejak zaman Buya adalah larangan menghadiri upacara Natal yang berdimensi ibadah dan keyakinan karena itu wilayah keyakinan masing-masing. Tetapi yang berbentuk seremoni tidak seharusnya terhindari."

Kita patut bertanya, apa kriteria untuk menentukan bahwa suatu kegiatan dalam perayaan Natal adalah ”ibadah” dan yang lain adalah ”seremoni”. Sebab, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Huston Smith, ”Christianity, is basically a historical religion. It is founded not in abstract principles, but in concrete events, actual historical happenings. (Lihat, Huston Smith, The World’s Religions, (New York: Harper CollinsPubliser, 1991). Agama Kristen tidak memiliki sistem ibadah yang bersifat “revealed” yang sama untuk semua Kristen sebagaimana dalam Islam. Karena itulah, setiap sekte atau Gereja memiliki tata cara ibadah yang ‘khas’, yang berbeda satu dengan lainnya. Setiap Gereja, pada setiap zaman, dan setiap tempat, dalam membuat kreasi sendiri dalam “ibadah”. Karena itu, dalam konsep Kristen, tidak mudah untuk menentukan, mana yang ibadah atau ritual, dan mana yang non-ritual atau yang seremoni. Misalnya, acara-acara KKR di berbagai hotel atau lapangan, apakah dikategorikan sebagai ibadah aau seremoni?

Konsep kenabian (prophecy) dalam agama Kristen berbeda dengan konsep kenabian dan konsep uswah sebagaimana konsep kenabian Islam. Umat Islam memiliki tata cara ibadah yang satu, karena ada contohnya yang jelas, yaitu sunnah Nabi Muhammad saw. Ke mana pun umat Islam pergi dan dimana pun, kapanpun, orang Islam shalat dengan cara yang sama. Umat Islam takbir, ruku’, sujud, dengan cara yang sama. Bahkan, sejumlah aliran yang disebut ”sesat” dalam Islam masih memiliki ibadah yang sama. Dalam Islam sistem ibadah tidak berubah, sudah sempurna sejak awal, di zaman Nabi Muhammad saw. (QS 5:3). Karena itu, bagi umat Islam, mudah menentukan, mana yang ritual dan mana yang non-ritual. Shalat Idul Fithri adalah ritual, tetapi kunjungan ke rumah-rumah setelah shalat Id adalah tradisi, non-ritual. Karena itulah, dalam fatwa MUI tentang PNB yang dikeluarkan tanggal 7 Maret 1981 disebutkan bahwa ”Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.”

Untuk menjernihkan masalah ”ibadah” dan ”seremoni” dalam Natal, bagus juga kita tengok sejarah peringatan Natal itu sendiri, dan sulitnya memisahkan antara yang ibadah dan yang seremoni. Sebab, tradisi ini tidak muncul di zaman Yesus dan tidak pernah diperintahkan oleh Yesus. Maka, bagaimana bisa ditentukan, mana yang ibadah dan mana yang seremoni? Remi Silado, seorang budayawan Kristen, menulis kolom di majalah Gatra, edisi 27 Desember 2003. Judulnya “Gatal di Natal”. Beberapa kutipan kolomnya kita petik di sini:

(1) “Sebab, memang tradisi pesta ceria Natal, yang sekarang gandrung dinyanyikan bahasa kereseh-reseh Inggris, belum lagi terlembaga. Sapaan Natal, "Merry Christmas" --dari bahasa Inggris Lama, Christes Maesse, artinya "misa Kristus"-- baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada 25 Desember, melainkan 6 Januari.”

(2) “Dengan gambaran ini, keramaian Natal sebagai perhitungan tahun Masehi memang berkaitan dengan leluri Barat, istiadat kafir, atau tradisi pagan, yang tidak berhubungan dengan Yesus sendiri sebagai sosok historis-antropologis bangsa Semit, lahir dari garis Ibrahim dan Daud, yang merupakan bangsa tangan pertama yang mengenal monoteisme absolut lewat Yehwah.”

(3) Saking gempitanya pesta Natal itu, sebagaimana yang tampak saat ini, karuan nilai-nilai rohaninya tergeser dan kemudian yang menonjol adalah kecenderungan-kecenderungan duniawinya semata: antara lain di Manado orang mengatakan "makang riki puru polote en minung riki mabo" (makan sampai pecah perut dan minum sampai mabuk).

(4) “Demikianlah, soal Natal sekali lagi merupakan gambaran pengaruh Barat, dan persisnya Barat yang kafir, yang dirayakan dengan keliru.”

Yang jelas-jelas tidak ritual adalah menghadirkan tokoh Santa Claus, karena ini adalah tokoh fiktif yang kehadirannya dalam peringatan Natal banyak dikritik oleh kalangan Kristen. Sebuah situs Kristen (www.sabda.org), menulis satu artikel berjudul: “Merayakan Natal dengan Sinterklas: Boleh atau Tidak?” Dikatakan, “Dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Santa Claus and the Christian Response to Him (Asal-usul Sinterklas dan Tanggapan Orang Kristen Terhadapnya), Pastor Richard P. Bucher menjelaskan bahwa tokoh Sinterklas lebih merupakan hasil polesan cerita legenda dan mitos yang kemudian diperkuat serta dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis. Sinterklas yang kita kenal saat ini diduga berasal dari cerita kehidupan seorang pastor dari Myra yang bernama Nicholas (350M). Cerita yang beredar (tidak ditunjang oleh catatan sejarah yang bisa dipercaya) mengatakan bahwa Nicholas dikenal sebagai pastor yang melakukan banyak perbuatan baik dengan menolong orang-orang yang membutuhkan. Setelah kematiannya, dia dinobatkan sebagai "orang suci" oleh gereja Katolik, dengan nama Santo Nicholas. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sinterklas sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen… Akhirnya, sebagai guru Sekolah Minggu kita harus menyadari bahwa hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah menjadikan Kristus sebagai berita utama dalam merayakan Natal -- Natal adalah Yesus.”

Karena itu, kita bertanya, bagaimana seandainya seorang Prof. Dr. Din Syamsuddin mengenakan busana ala Santa Claus, dengan alasan itu bukan termasuk ibadah? Tentulah, sulit diterima. Dan kita yakin, Pak Din Syamsuddin sendiri, tentu tidak akan bersedia melakukan tindakan tersebut.

KEEMPAT, mitos bahwa tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Melihat PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat. Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan Gereja Kristen.

Dalam dokumen Konstitusi Dogmatik tentang Gereja (Lumen Gentium, 1) juga disebutkan: “Christ is the Light of nations. Because this is so, this Sacred Synod gathered together in the Holy Spirit eagerly desires, by proclaiming the Gospel to every creature, to bring the light of Christ to all men, a light brightly visible on the countenance of the Church.” (Terjemahan oleh Dr. J. Riberu adalah: “Terang bangsa-bangsa adalah Kristus. Karena itu Konsili Suci ini, yang berhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali mewartakan Injil kepada segala makhluk (bdk Mk 16:15) dan menerangi semua manusia dengan cahaya Kristus, yang terpantul pada wajah Gereja).

Dokumen Konsili Vatikan II, Ad Gentes, juga menugaskan, agar semua manusia harus dijadikan sasaran misi. Ad gentes juga menugaskan agar misi Kristen tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi “sakramen universal penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men). Juga ditegaskan, semua manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan. (Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church's preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body).

Tentu adalah hal yang normal, bahwa kaum Kristen ingin menyebarkan agamanya, dan memandang penyebaran misi Kristen sebagai tugas suci mereka. Namun, alangkah baiknya, jika hal itu dikatakan secara terus-terang, bahwa acara-acara seperti PNB memang merupakan bagian dari penyebaran misi Kristen. Paus Yohanes Paulus II, dalam Ensiklik-nya, Redemptor Hominis, (dikeluarkan 4 Maret 1979) menyatakan, bahwa Gereja berkeinginan agar setiap orang dapat menemukan Kristus (The church wishes to serve this single end: that each person may be able to find Christ, so that Christ may walk with each one the path of life).

Lebih jauh lagi ditegaskan dalam Dekrit Dominus Jesus: “The Lord Jesus, before ascending into heaven, commanded his disciples to proclaim the Gospel to the whole world and to baptize all nations: “Go into the whole world and proclaim the Gospel to every creature. He who believes and is baptized will be saved; he who does not believe will be condemned. (Mk 16:15-16); “All power in heaven and on earth has been given to me. Go therefore and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, teaching them to observe all that I have commanded you. And behold, I am with you always, until the end of the world?(Mt 28:18-20; cf. Lk 24:46-48; Jn 17:18,20,21; Acts 1:8).

Sebagai Muslim, kita menghormati keyakinan dan tugas misi kaum Kristen tersebut. Karena itu adalah keyakinan mereka. Paus Yohanes Paulus II pun maklum akan perbedaan mendasar antara Kristen dengan Islam. Dalam sebuah wawancara, Paus mengatakan, bahwa Islam bukan agama penyelamatan. (Islam is not a religion of redemption). Dalam Islam, kata Paus, tidak ada ruang untuk Salib dan Kebangkitan Yesus (… in Islam, there is no room for the Cross and the Resurrection).

Lebih jauh Paus menyatakan: “Jesus is mentioned, but only as a prophet who prepares for the last prophet, Muhammad. There is also mention of Mary, His Virgin Mother, but the tragedy of redemption is completely absent.” “For this reason,” Paus menyimpulkan, “not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity.” (Lebih jauh tentang pernyataan Paus Yohanes Paulus II, lihat Vittorio Messori (ed.), Crossing The Threshold of Hope by His Holiness John Paul II, (New York: Alfred A. Knopf, 1994).

Imbauan

Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim bersedia menghormati fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang umat Islam untuk menghadiri PNB. MUI sama sekali tidak melarang kaum Kristen merayakan Natal. Fatwa itu adalah untuk internal umat Islam, dan sama sekali tidak merugikan pemeluk Kristen. Fatwa itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian aqidah Islam dan menghormati pemeluk Kristen dalam merayakan Hari Natal. Mestinya, kaum non-Muslim menghormati keyakinan umat Islam ini, sebagaimana difatwakan oleh MUI. Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Karena itu, kita menyesalkan jika kalangan Kristen banyak mengkritik fatwa tersebut. Menganggap fatwa MUI tentang PNB itu tidak sejalan dengan semangat kerukunan umat beragama, adalah penilaian yang berlebihan dan tidak mengormati keyakinan masing-masing agama. Lebih ajaib lagi, jika ada yang mengaku Muslim ikut-ikutan meributkan fatwa ini, seolah-olah merupakan musibah besar bagi bangsa Indonesia, jika PNB hanya dihadiri internal kaum Kristen saja.

Kaum yang mengaku liberal ini seringkali aneh jalan pikirannya. Mereka mengaku liberal dan katanya punya misi untuk menanamkan pluralisme dan menghormati perbedaan. Tapi, mereka sendiri bersikap otoriter dan tidak mengormati pendapat dan fatwa MUI soal Natal Bersama. Harusnya mereka menghormati fatwa tersebut dan tidak mencaci maki serta menuduh fatwa itu meresahkan masarakat, dan sebagainya. Jika mereka sudah ”kebelet” mau menghadiri PNB, ya silakan saja. Itu urusan mereka. Tidak perlu berteriak-teriak memaki-maki MUI. Dalam soal PNB ini, MUI hanya menyatakan, bahwa itu hukumnya haram. MUI tidak meminta polisi membubarkan PNB atau tidak meminta orang-orang yang hadir dalam PNB itu ditangkapi. MUI hanya berpendapat, tapi sudah dicaci maki. Karena itu, MUI juga tidak akan memaksa kaum liberal untuk mengikuti fatwa MUI. Jika mereka berpendapat bahwa menghadiri PNB adalah jalan untuk menggapai Ridho Ilahi dan halalan thayyiban, ya itu urusan mereka. Toh, nanti di akhirat tanggung jawabnya juga masing-masing. Wa laa taziru waaziratun wizra ukhraa.

Dalam pandangan Islam, masalah peringatan Hari Besar Agama, sebenarnya sudah diberi contoh dan penjelasan yang jelas oleh Rasulullah saw, dan dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Sebaiknya hal ini dikaji secara ilmiah dari sudut ketentuan-ketentuan Islam. Untuk berijtihad, memutuskan mana yang halal dan mana yang haram, memerlukan kehati-hatian, dan menghindari kesembronoan. Sebab, tanggung jawab di hadapan Allah, sangatlah berat. Untuk masalah hukum-hukum seputar Hari Raya, misalnya, bisa dibaca Kitab “Iqtidha’ as-Shirat al-Mustaqim Mukhalifata Ashhabil Jahim”, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

Sejak awal mula, Islam sadar akan makna pluralitas dan kerukunan umat beragama. Islam hadir dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat beragama lain, disaat kaum Kristen Eropa menyerukan membunuh kaum “heresy” karena berbeda agama. Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam memberikan perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen di Jerusalem. Umar r.a. adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa pengrusakan dan pembantaian manusia, bahkan menandatangani perjanjian ’Iliya’ dengan pemimpin Kristen Jerusalem. Secara tegas Armstrong memuji sikap Umar bin Khatab dan ketinggian sikap Islam dalam menaklukkan Jerusalem, yang belum pernah dilakukan para penguasa sebelumnya. Ia mencatat:

“Umar juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut (agama) monoteistik, dibandingkan dengan semua penakluk Jerusalem lainnya, dengan kemungkinan perkecualian pada Raja Daud. Ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang Kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atyau pengambialihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerusalem memeluk Islam. Jika sikap respek terhadap penduduk yang ditaklukkan dari Kota Jarusalem itu dijadikan sebagai tanda integritas kekuatan monoteistik, maka Islam telah memulainya untuk masa yang panjang di Jerusalem, dengan sangat baik tentunya. (Lihat, Karen Arsmtrong, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, (London: Harper Collins Publishers, 1997).

Namun, kita bisa menyimak, dalam kitab Iqtidha’ as-Shirat al-Mustaqim digambarkan, bagaimana ketegasan Umar bin Khatab dalam soal perayaan Hari Besar kaum Yahudi dan Kristen. Beliau meminta kaum Muslim untuk menjauhi Hari Besar agama mereka. Umar r.a. sama sekali tidak menganjurkan kaum Muslim untuk berboncong-bondong merayakan Natal Bersama.

Peringatan Hari Raya Keagamaan, sebaiknya tetap dipertahankan sebagai hal yang eksklusif milik masing-masing umat beragama. Biarkanlah masing-masing pemeluk agama meyakini keyakinan agamanya, tanpa dipaksa untuk menjadi munafik, dengan mencampuradukkan urusan perayaan Hari Raya. Masih banyak cara dan jalan untuk membangun sikap untuk saling mengenal dan bekerjasama antar umat beragama, seperti bersama-sama melawan kezaliman global yang menindas umat manusia saat ini. Dan untuk itu tidak perlu menciptakan mitos-mitos yang menyesatkan, bahwa jika orang Islam mau menghadiri Perayaan Natal Bersama, atau orang Kristen mau menghadiri perayaan Idul Fithri Bersama, maka Indonesia akan menjadi negara yang rukun dan maju.

Kita berharap, masing-masing agama bersedia menghormati keyakinan masing-masing dan tidak memaksa – secara halus atau terang-terangan – untuk melakukan suatu tindakan yang melanggar ajaran agamanya masing-masing. Tentu amat sangat tidak bijaksana, jika umat Islam juga mendesak pemeluk Kristen atau non-Muslim lainnya untuk menghadiri perayaan Idul Fithri. Karena itu, kita juga berharap, terutama kepada para tokoh dan cendekiawan dari kalangan Muslim, agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengeluarkan pendapat. Wallahu a’lam. www.hidayatullah.com

*Penulis adalah Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat

Selengkapnya >>>