KHUTBAH IDUL FITRI 1429
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita bersyukur kepada Allah swt yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati indahnya bulan Ramadhan dan merayakan idul fitri untuk kesekian kalinya.
Sudah puluhan kali idul fitri kita lewati, sudah berbilang Ramadhan kita jalani. Setiap tahun lebaran datang mengunjungi kita membawa kisah suka dan duka. Marilah kita mengenang lebaran yang sudah-sudah, bukankah pernah lebaran datang saat kita dirundung malang, diliputi penderitaan, dan diuji dengan berbagai penderitaan?
Sebaliknya, bukankah lebaran pernah datang di saat kita memperoleh keberuntungan, dipenuhi kebahagiaan, dan dimanjakan berbagai kenikmatan? Suka dan duka datang silih berganti, tapi satu hal yang tidak pernah berubah, bahwa setiap kali lebaran tiba, ada saja di antara sanak saudara, karib kerabat, sahabat, bahkan orangtua kita yang tidak berlebaran bersama kita. Mereka tidak ikut sibuk mempersiapkan idul fitri. Mereka tidak ikut pergi ke tanah lapang. Mereka tidak ikut bertakbir. Kita tidak bisa melihat wajah mereka yang ceria. Kita tidak bisa mengulurkan tangan, menyampaikan salam dan memohon maaf kepada mereka. Kita tidak bisa membahagiakan mereka sekadar memberi oleh-oleh atau makanan kesukaannya. Mereka sudah mendahului kita. Mereka telah pulang ke kampung asalnya, menemui sang Pencipta.
Marilah pada saat-saat seperti ini kita mengenang mereka, sambil mendo’akan mereka:
“Allahumma, ya Allah, masukkanlah kebahagiaan kepada para penghuni kubur. Ya Allah, kasih sayang-Mu meliputi segala sesuatu, ampunilah saudara-saudara kami, ayah ibu kami yang telah kembali mengikuti jalan-Mu, jauhkanlah mereka dari siksa kubur dan siksa api neraka. Masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang Engkau janjikan kepada orang-orang yang shaleh.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Tahun ini mereka telah meninggalkan kita, boleh jadi tahun depan justru kita yang mendapat giliran meninggalkan keluarga, anak, isteri, dan saudara-saudara kita. Hari ini kita menangisi mereka, bisa jadi tahun depan atau bahkan besok hari justru kita yang ditangisi oleh kerabat kita. Setiap hari, setiap saat, maut bisa datang menghampiri kita, menghampiri orang-orang yang kita cintai dan orang-orang yang kita hormati.
Saat pulang dari perang Shiffin, Ali bin Abi Thalib ra menghampiri kuburan di pinggir kota Kuffah, seraya berkata: “Wahai penghuni kampung yang sunyi. Wahai penduduk kampung yang sepi. Wahai orang yang berdiam di kubur yang gelap. Wahai orang yang berbaring di atas tanah, yang terasing, yang sendirian, yang kesepian. Kalian telah mendahului kami, dan insya-Allah kami akan menyusul. Rumah kalian sudah ditinggali orang lain, pasangan kalian sudah menikah lagi, harta kalian sudah dibagi-bagikan. Inilah kabar dari kami, bagaimana kabar dari kalian?”
Sayidina Ali kemudian menoleh kepada para sahabat, “Demi Allah, seandainya mereka diizinkan berbicara, mereka akan berkata: Sesungguhnya bekal yang paling baik adalah taqwa”.
Setiap hari kita bekerja keras, banting tulang, memeras keringat untuk bekal mudik ke kampung halaman hanya untuk beberapa hari lamanya. Tapi kita lupa bekerja keras untuk mempersiapkan bekal mudik ke kampung asal kita, kampung akhirat. Bukan untuk beberapa hari, tapi untuk suatu perjalanan yang jauh dan panjang. Betapa sibuknya kita mempersiapkan masa pensiun yang hanya beberapa tahun saja, sementara kita lupa mempersiapkan masa ribuan tahun setelah ajal menjemput kita.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Saudara-saudara, kaum muslimin yang berbahagia
Bagi orang yang beriman, kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Rela atau terpaksa, berani atau takut, kematian pasti menjemput kita.
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26 dan 27)
“Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imraan: 185)
Kematian itu adalah rencana Tuhan. Tak seorangpun yang mampu menunda atau mempercepatnya.
“Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raaf: 34)
Kalau ada yang ditakuti, bukan kematiannya sendiri. Yang justru harus kita takuti adalah kehidupan setelah mati. Bagaimana nasib kita setelah dihidupkan kembali, apakah kita termasuk orang yang selamat atau celaka? Orang yang beruntung atau orang yang merugi? Masuk surga atau masuk neraka?
Justru karena itulah, Allah swt mendidik kita melalui puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan ini untuk mempersiapkan bekal menempuh perjalanan jauh dan panjang, yaitu bekal taqwa.
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)
Tujuan puasa adalah membentuk insan taqwa. Kalau kita jalani puasa kemarin dengan keyakinan (iman) dan mengharapkan keridhaan Tuhan (ihtisaaban), maka predikat taqwa itu akan kita sandang. Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari)
Pagi ini, melalui shalat dua rakaat yang baru kita laksanakan, Allah swt seakan telah melantik kita menjadi wisudawan Ramadhan. Saat ini, kita adalah alumni-alumni Ramadhan. Bagi yang lalus gelarnya bukan sekadar sarjana, S1, S2, atau S3. Gelar dan predikat yang disematkan kepada kita para wisudawan hari ini adalah “MUTTAQIN”, orang-orang yang betaqwa.
Gelar ini sungguh tidak main-main. Orang yang mendapat gelar ini akan senatiasa dipimpin Allah.
“Allah menjadi Pemimpin orang-orang yang bertaqwa. ” (Al-Jatsiyah: 19)
Mereka juga dijadikan kekasihnya Allah.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imraan: 76)
Kemanapun mereka berada senantiasa disertai Allah.
“Sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 194)
Diberi jaminan akan keselamatan, kesuksesan, dan kejayaan.
“Dan kesudahan yang baik (berupa kemenangan) adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-A’raf: 128)
Harkat, martabat, dan derajatnya diangkat tinggi-tinggi di sisi Allah
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. “(Al-Hujuraat: 13)
Selain keberhasilan, kemenangan, kejayaan, dan kebahagiaan, serta kemuliaan di dunia, orang-orang yang bergelar MUTTAQIN diberi jaminan masuk surga. Adakah tempat yang lebih baik dari surga? Apakah ada pembalasan yang lebih sempurna dari pada jannah?
“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik.“ (Shaad: 49)
Andai saja negeri ini dihuni oleh orang-orang yang bergelar taqwa, tentu saja negeri ini akan menjadi negeri yang aman, makmur, dan sejahtera. Allah berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.“ (Al-A’raf: 96)
Allah swt telah menghadiahi kita Negara Indonesia yang alamnya kaya raya. Di dalam perut bumi Indonesia terdapat berbagai sumber daya yang luar biasa. Di laut, di darat, dan di uadara, terdapat berbagai karunia yang tidak saja dapat mensejahterakan anak bangsa, tapi juga cukup untuk menghidupi genarasi di belakang kita. Lalu mengapa rakyat kita miskin? Mengapa puluhan juta rakyat kita masih menderita? Mengapa masih terjadi antrian panjang menunggu pembagian BLT? Mengapa sampai terjadi peristiwa yang mengenaskan saat pembagian zakat di Pasuruan hingga menewaskan 21 orang?
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pada kesempatan yang pendek ini, marilah kita melakukan evaluasi diri, apakah kita termasuk golongan orang-orang yang berpredikat muttaqin atau belum? Al-Qur’anul Karim telah menunjukkan tanda-tanda, indikator orang yang bertaqwa:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imraan: 133 – 135)
Menurut ayat tadi, ada empat indikator yang menandai orang yang berpredikat taqwa. Pertama, alladzina yunfiquuna fis-sarrai wa dharra’. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menginfaqkan hartanya di saat lapang maupun sempit. Mereka adalah orang yang mempunyai kecerdasan finansial.
Orang-orang yang memiliki kecerdasan finansial adalah mereka yang pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui kerja keras dan cerdas, lalu pandai pula mengelolanya, termasuk menyisihkan sebagian untuk kaum dhu’afa dan masakin.
Orang yang memiliki kecerdasan finansial tidak saja pandai mengumpulkan uang dan menghimpun kekayaan, lalu menghitung-hitungnya. Mereka mengira dengan kekayaannya itu hidupnya bisa lebih kekal dan bahagia. Tidak, mereka justru hidup menderita sekalipun hartanya melimpah. Mereka, dalam al-Qur’an disebut sebagai orang yang celaka.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (Al-Humazah: 1 – 4)
Allah juga mengecam sikap dan perilaku mereka:
“Bermegah-megahan telah melalikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu).” (At-Takatsur: 1 – 3)
Kepada saudara-saudaraku yang masih belum beruntung secara finasial, yang masih tergolong dhu’afa dan masakin, marilah kita belajar kepada saudara-saudara kita yang telah berhasil untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas lagi. Jangan datangi rumah orang-orang kaya sekadar untuk meminta-minta. Semiskin apapun, kita masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Kekayaan kita adalah kehormatan kita. Kalau kehormatan itu kita lepaskan juga, lalu mana lagi kekayaan kita?
Wahai saudara-saudaraku yang telah beruntung secara finansial, Anda akan selamat jika hak orang-orang miskin yang ada pada sebagian kekayaan Anda telah Anda sisihkan buat mereka. Anda baru disebut memiliki kecerdasan finansial jika Anda mau berinfaq, bershadaqah, dan berzakat. Jangan biarkan tetangga Anda tidak bisa tidur karena kelaparan, sementara Anda pulas tertidur karena kekeyangan. Mari kita berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi harta, berbagi do’a, berbagi cinta dan kasih sayang.
Tanda kedua adalah: wal kaadhimiinal ghaidza (orang-orang yang bisa mengendalikan amarahnya). Dalam bahasa sekarang, mereka adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosianal.
Rasulullah mengajari kita, jika dalam keadaan berpuasa lalu ada orang lain mengajak kita untuk bertengkar atau sekadar berdebat, maka katakan kepada mereka: “maaf, saya sedang berpuasa”. “Inni shaaimun”.
Orang yang kuat, menurut Nabi saw bukanlah orang yang kuat bertarung. Yang disebut orang yang kuat dalam Islam adalah orang yang mampu menahan marah. Islam tidak melarang kita marah. Islam membolehkan kita marah. Yang dilarang adalah marah yang tidak terkendali. Emosi yang meletup-letup tanpa kontrol. Perasaan senang dan benci, perasaan bahagia dan bersedih hati, demikian juga marah adalah sifat alamiah manusia.
Persoalannya, orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi mampu mengendalikan perasaannya sehingga mereka tahu kapan dan dimana bisa mengungkapkan perasaan senang atau ketidak senangannya. Mereka tahu, apakah siatuasinya cocok untuk marah atau tidak. Marah itu normal. Justru orang yang tidak pernah marah itu mempunyai kelainan. Orang yang demikian justru membahayakan, sebab mereka telah kehilangan “rasa”.
Indikator ketiga, wal ‘aafina ‘anin-naas (mudah memaafkan). Dalam istilah sekarang, mereka telah memiliki Kecerdasan Sosial.
Tanda orang yang memiliki kecerdasan sosial itu bisa dilihat dari pergaulannya sehari-hari, apakah mereka diterima masyarakat lingkungannya atau dijauhi? Orang yang memiliki kecerdasan sosial itu mudah bergaul, luwes, dan diterima. Sikapnya tidak arogan, tidak terkesan angkuh dan sombong. Tidak egois dan mau berbagi. Mereka hidup di tengah masyarakat, berbaur, menyatu, dan tidak menyendiri. Rasulullah saw bersabda:
“Mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dalam pergaulan sosial, ada ada saja di antara saudara kita yang perkataannya menyinggung perasaan, sikapnya tidak menyenangkan, dan perbuatannya merugikan. Terhadap mereka, islam mengajarkan agar kita lebih bersabar dan pandai-pandai memaafkan.
Dalam pergaulan sosial, tak bisa dihindari adanya gesekan, persaingan, dan sesekali perebutan. Orang-orang yang lapang dadanya mudah melupakan kesalahan orang lain, mudah memaafkan, dan tidak mendendam. Rasulullah saw bahkan mengajarkan:
“Hubungilah orang yang memutus hubungannya dengan kamu. Berilah (sesuatu) kepada orang yang enggan memberimu. Hindarkan dirimu dari orang yang mendzalimi kamu.” (HR. Ahmad)
Saat ini adalah kesempatan baik bagi kita untuk bersilaturrahim, menyambung kembali tali persaudaraan yang mungkin berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun telah putus. Hubungi kembali sanak saudara, handai taulan, teman dan sahabat lama yang hampir putus hubungan, atau malah dengan sengaja memutus tali silaturrahim dengan kita. Mari kita ulurkan tangan kita untuk meminta maaf dan memaafkan. Jauhkan kebencian, hindari dendam, dan hilangkan permusuhan. Mari kita hadirkan kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan.
Ciri keempat orang yang bertaqwa adalah: idza fa’aluu faakhisatan aw dzalamuu anfusahum dzakarullah fastaghfaruu lidzunuubihim (apabila berbuat kerusakan, mereka segera mengingat Allah, lalu meminta ampun atas kesalahan dan dosanya). Mereka adalah orang-orang yang memiliki Kecerdasan Spiritual.
Orang yang baik, dalam pandangan Islam bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan. Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang sama sekali bebas dari perbuatan dosa. Orang yang bertaqwa adalah mereka yang apabila melakukan kesalahan, perbuatan yang kurang baik, dan melanggar ketentuan, segera mengingat Allah lalu meminta ampun dan bertobat. Mereka segera kembali ke jalan yang benar dan lurus ketika terperosok. Mereka tidak terlalu lama berada dalam kesesatan.
Orang yang memiliki Kecerdasan Spiritual senantiasa mengingat Allah, kapan dan di manapun juga. Ketika hendak memulai sesuatu, mereka mengingat Allah lalu mengucapkan bismillah. Setiap langkahnya diperhitungkan, apakah sesuai dengan syari’at agama? Apakah perbuatan dan tindakannya itu menguntungkan bagi dirinya dan memberi manfaat kepada orang lain? Apakah perilakunya mencerminkan kasih sayang (Rahman dan Rahim)? Ketika pekerjaannya telah usai, tak lupa mereka bersyukur sambil mengucapkan alhamdulillah. Mereka tidak ingin dipuji, sebab mereka sadar bahwa segala puji adalah milik Allah. Hanya Dia yang patut mendapat pujian dan segala bentuk sanjungan. Mereka syukuri semua karunia Allah, lalu bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Wa lillahil hamd
Betapa indahnya gaya dan pola hidup orang-orang yang bertaqwa. Dengan Kecerdasan Finansialnya mereka bisa membantu sesama. Dengan Kecerdasan Emosinya mereka mempunyai mekanisme kontrol diri. Dengan Kecerdasan Sosialnya mereka dapat bermasyarakat. Dan dengan Kecerdasan Spiritualnya mereka sentiasa mensyukuri setiap karunia Allah, baik yang kecil, apalagi yang besar. Dan karunia yang terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah nikmat iman dan islam. Alhamdulillah nikmat itu telah dikaruniakan Allah kepada kita. Untuk itu kita harus pandai-pandai merawat dan menjaganya.
Ya Allah, hari ini kami mengakui bahwa Engkaulah sebesar-besar pemberi karunia. Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah atas bumi yang Engkau hamparkan, atas langit yang Engkau tinggikan, atas gunung-gunung yang Engkau pancangkan, atas alam semesta yang Engkau bentangkan, dan atas bintang-bintang yang Engkau tebarkan.
Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik pemberi nikmat. Kau pancarkan sinar matahari. Kau turunkan air hujan. Kau tumbuhkan pepohonan. Kau hidupkan hewan-hewan.
Ya Allah, ampuni kami. Kami sering lupa mensyukuri hidup kami, mensyukuri waktu dan kesempatan kami, mensyukuri setiap helaan nafas kami, mensyukuri apapun yang Kau berikan kepada kami.
Allahumma ya Allah, alangkah banyak nikmat yang Engkau curahkan kepada kami. Engkau beri kami nikmat iman. Engkau beri kami nikmat Islam, tetapi sedikit syukur kami kepada-Mu.
Wahai Allah yang Maha Bijaksana, ampuni kami yang hanya bersyukur apabila mendapatkan kesehatan, apabila mendapatkan rizki, apabila mendapatkan harta, apabila mendapatkan jabatan, apabila mendapatkan penghargaan, tapi kurang bersyukur jika mampu melaksakan shalat berjama’ah, beribadah, bersedekah, dan berzakat.
Ya Rabb, ajari kami untuk senantiasa mensyukuri hal-hal kecil dalam pandangan kami. Beri kami kekuatan untuk mengajari anak-anak kami untuk senantiasa bersyukur, dan jadikan mereka sebagai ahli syukur.
Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, …...............
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaaban-naar.
Selengkapnya >>>
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita bersyukur kepada Allah swt yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati indahnya bulan Ramadhan dan merayakan idul fitri untuk kesekian kalinya.
Sudah puluhan kali idul fitri kita lewati, sudah berbilang Ramadhan kita jalani. Setiap tahun lebaran datang mengunjungi kita membawa kisah suka dan duka. Marilah kita mengenang lebaran yang sudah-sudah, bukankah pernah lebaran datang saat kita dirundung malang, diliputi penderitaan, dan diuji dengan berbagai penderitaan?
Sebaliknya, bukankah lebaran pernah datang di saat kita memperoleh keberuntungan, dipenuhi kebahagiaan, dan dimanjakan berbagai kenikmatan? Suka dan duka datang silih berganti, tapi satu hal yang tidak pernah berubah, bahwa setiap kali lebaran tiba, ada saja di antara sanak saudara, karib kerabat, sahabat, bahkan orangtua kita yang tidak berlebaran bersama kita. Mereka tidak ikut sibuk mempersiapkan idul fitri. Mereka tidak ikut pergi ke tanah lapang. Mereka tidak ikut bertakbir. Kita tidak bisa melihat wajah mereka yang ceria. Kita tidak bisa mengulurkan tangan, menyampaikan salam dan memohon maaf kepada mereka. Kita tidak bisa membahagiakan mereka sekadar memberi oleh-oleh atau makanan kesukaannya. Mereka sudah mendahului kita. Mereka telah pulang ke kampung asalnya, menemui sang Pencipta.
Marilah pada saat-saat seperti ini kita mengenang mereka, sambil mendo’akan mereka:
“Allahumma, ya Allah, masukkanlah kebahagiaan kepada para penghuni kubur. Ya Allah, kasih sayang-Mu meliputi segala sesuatu, ampunilah saudara-saudara kami, ayah ibu kami yang telah kembali mengikuti jalan-Mu, jauhkanlah mereka dari siksa kubur dan siksa api neraka. Masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang Engkau janjikan kepada orang-orang yang shaleh.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Tahun ini mereka telah meninggalkan kita, boleh jadi tahun depan justru kita yang mendapat giliran meninggalkan keluarga, anak, isteri, dan saudara-saudara kita. Hari ini kita menangisi mereka, bisa jadi tahun depan atau bahkan besok hari justru kita yang ditangisi oleh kerabat kita. Setiap hari, setiap saat, maut bisa datang menghampiri kita, menghampiri orang-orang yang kita cintai dan orang-orang yang kita hormati.
Saat pulang dari perang Shiffin, Ali bin Abi Thalib ra menghampiri kuburan di pinggir kota Kuffah, seraya berkata: “Wahai penghuni kampung yang sunyi. Wahai penduduk kampung yang sepi. Wahai orang yang berdiam di kubur yang gelap. Wahai orang yang berbaring di atas tanah, yang terasing, yang sendirian, yang kesepian. Kalian telah mendahului kami, dan insya-Allah kami akan menyusul. Rumah kalian sudah ditinggali orang lain, pasangan kalian sudah menikah lagi, harta kalian sudah dibagi-bagikan. Inilah kabar dari kami, bagaimana kabar dari kalian?”
Sayidina Ali kemudian menoleh kepada para sahabat, “Demi Allah, seandainya mereka diizinkan berbicara, mereka akan berkata: Sesungguhnya bekal yang paling baik adalah taqwa”.
Setiap hari kita bekerja keras, banting tulang, memeras keringat untuk bekal mudik ke kampung halaman hanya untuk beberapa hari lamanya. Tapi kita lupa bekerja keras untuk mempersiapkan bekal mudik ke kampung asal kita, kampung akhirat. Bukan untuk beberapa hari, tapi untuk suatu perjalanan yang jauh dan panjang. Betapa sibuknya kita mempersiapkan masa pensiun yang hanya beberapa tahun saja, sementara kita lupa mempersiapkan masa ribuan tahun setelah ajal menjemput kita.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Saudara-saudara, kaum muslimin yang berbahagia
Bagi orang yang beriman, kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Rela atau terpaksa, berani atau takut, kematian pasti menjemput kita.
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26 dan 27)
“Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imraan: 185)
Kematian itu adalah rencana Tuhan. Tak seorangpun yang mampu menunda atau mempercepatnya.
“Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raaf: 34)
Kalau ada yang ditakuti, bukan kematiannya sendiri. Yang justru harus kita takuti adalah kehidupan setelah mati. Bagaimana nasib kita setelah dihidupkan kembali, apakah kita termasuk orang yang selamat atau celaka? Orang yang beruntung atau orang yang merugi? Masuk surga atau masuk neraka?
Justru karena itulah, Allah swt mendidik kita melalui puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan ini untuk mempersiapkan bekal menempuh perjalanan jauh dan panjang, yaitu bekal taqwa.
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)
Tujuan puasa adalah membentuk insan taqwa. Kalau kita jalani puasa kemarin dengan keyakinan (iman) dan mengharapkan keridhaan Tuhan (ihtisaaban), maka predikat taqwa itu akan kita sandang. Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari)
Pagi ini, melalui shalat dua rakaat yang baru kita laksanakan, Allah swt seakan telah melantik kita menjadi wisudawan Ramadhan. Saat ini, kita adalah alumni-alumni Ramadhan. Bagi yang lalus gelarnya bukan sekadar sarjana, S1, S2, atau S3. Gelar dan predikat yang disematkan kepada kita para wisudawan hari ini adalah “MUTTAQIN”, orang-orang yang betaqwa.
Gelar ini sungguh tidak main-main. Orang yang mendapat gelar ini akan senatiasa dipimpin Allah.
“Allah menjadi Pemimpin orang-orang yang bertaqwa. ” (Al-Jatsiyah: 19)
Mereka juga dijadikan kekasihnya Allah.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imraan: 76)
Kemanapun mereka berada senantiasa disertai Allah.
“Sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 194)
Diberi jaminan akan keselamatan, kesuksesan, dan kejayaan.
“Dan kesudahan yang baik (berupa kemenangan) adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-A’raf: 128)
Harkat, martabat, dan derajatnya diangkat tinggi-tinggi di sisi Allah
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. “(Al-Hujuraat: 13)
Selain keberhasilan, kemenangan, kejayaan, dan kebahagiaan, serta kemuliaan di dunia, orang-orang yang bergelar MUTTAQIN diberi jaminan masuk surga. Adakah tempat yang lebih baik dari surga? Apakah ada pembalasan yang lebih sempurna dari pada jannah?
“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik.“ (Shaad: 49)
Andai saja negeri ini dihuni oleh orang-orang yang bergelar taqwa, tentu saja negeri ini akan menjadi negeri yang aman, makmur, dan sejahtera. Allah berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.“ (Al-A’raf: 96)
Allah swt telah menghadiahi kita Negara Indonesia yang alamnya kaya raya. Di dalam perut bumi Indonesia terdapat berbagai sumber daya yang luar biasa. Di laut, di darat, dan di uadara, terdapat berbagai karunia yang tidak saja dapat mensejahterakan anak bangsa, tapi juga cukup untuk menghidupi genarasi di belakang kita. Lalu mengapa rakyat kita miskin? Mengapa puluhan juta rakyat kita masih menderita? Mengapa masih terjadi antrian panjang menunggu pembagian BLT? Mengapa sampai terjadi peristiwa yang mengenaskan saat pembagian zakat di Pasuruan hingga menewaskan 21 orang?
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pada kesempatan yang pendek ini, marilah kita melakukan evaluasi diri, apakah kita termasuk golongan orang-orang yang berpredikat muttaqin atau belum? Al-Qur’anul Karim telah menunjukkan tanda-tanda, indikator orang yang bertaqwa:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imraan: 133 – 135)
Menurut ayat tadi, ada empat indikator yang menandai orang yang berpredikat taqwa. Pertama, alladzina yunfiquuna fis-sarrai wa dharra’. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menginfaqkan hartanya di saat lapang maupun sempit. Mereka adalah orang yang mempunyai kecerdasan finansial.
Orang-orang yang memiliki kecerdasan finansial adalah mereka yang pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui kerja keras dan cerdas, lalu pandai pula mengelolanya, termasuk menyisihkan sebagian untuk kaum dhu’afa dan masakin.
Orang yang memiliki kecerdasan finansial tidak saja pandai mengumpulkan uang dan menghimpun kekayaan, lalu menghitung-hitungnya. Mereka mengira dengan kekayaannya itu hidupnya bisa lebih kekal dan bahagia. Tidak, mereka justru hidup menderita sekalipun hartanya melimpah. Mereka, dalam al-Qur’an disebut sebagai orang yang celaka.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (Al-Humazah: 1 – 4)
Allah juga mengecam sikap dan perilaku mereka:
“Bermegah-megahan telah melalikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu).” (At-Takatsur: 1 – 3)
Kepada saudara-saudaraku yang masih belum beruntung secara finasial, yang masih tergolong dhu’afa dan masakin, marilah kita belajar kepada saudara-saudara kita yang telah berhasil untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas lagi. Jangan datangi rumah orang-orang kaya sekadar untuk meminta-minta. Semiskin apapun, kita masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Kekayaan kita adalah kehormatan kita. Kalau kehormatan itu kita lepaskan juga, lalu mana lagi kekayaan kita?
Wahai saudara-saudaraku yang telah beruntung secara finansial, Anda akan selamat jika hak orang-orang miskin yang ada pada sebagian kekayaan Anda telah Anda sisihkan buat mereka. Anda baru disebut memiliki kecerdasan finansial jika Anda mau berinfaq, bershadaqah, dan berzakat. Jangan biarkan tetangga Anda tidak bisa tidur karena kelaparan, sementara Anda pulas tertidur karena kekeyangan. Mari kita berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi harta, berbagi do’a, berbagi cinta dan kasih sayang.
Tanda kedua adalah: wal kaadhimiinal ghaidza (orang-orang yang bisa mengendalikan amarahnya). Dalam bahasa sekarang, mereka adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosianal.
Rasulullah mengajari kita, jika dalam keadaan berpuasa lalu ada orang lain mengajak kita untuk bertengkar atau sekadar berdebat, maka katakan kepada mereka: “maaf, saya sedang berpuasa”. “Inni shaaimun”.
Orang yang kuat, menurut Nabi saw bukanlah orang yang kuat bertarung. Yang disebut orang yang kuat dalam Islam adalah orang yang mampu menahan marah. Islam tidak melarang kita marah. Islam membolehkan kita marah. Yang dilarang adalah marah yang tidak terkendali. Emosi yang meletup-letup tanpa kontrol. Perasaan senang dan benci, perasaan bahagia dan bersedih hati, demikian juga marah adalah sifat alamiah manusia.
Persoalannya, orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi mampu mengendalikan perasaannya sehingga mereka tahu kapan dan dimana bisa mengungkapkan perasaan senang atau ketidak senangannya. Mereka tahu, apakah siatuasinya cocok untuk marah atau tidak. Marah itu normal. Justru orang yang tidak pernah marah itu mempunyai kelainan. Orang yang demikian justru membahayakan, sebab mereka telah kehilangan “rasa”.
Indikator ketiga, wal ‘aafina ‘anin-naas (mudah memaafkan). Dalam istilah sekarang, mereka telah memiliki Kecerdasan Sosial.
Tanda orang yang memiliki kecerdasan sosial itu bisa dilihat dari pergaulannya sehari-hari, apakah mereka diterima masyarakat lingkungannya atau dijauhi? Orang yang memiliki kecerdasan sosial itu mudah bergaul, luwes, dan diterima. Sikapnya tidak arogan, tidak terkesan angkuh dan sombong. Tidak egois dan mau berbagi. Mereka hidup di tengah masyarakat, berbaur, menyatu, dan tidak menyendiri. Rasulullah saw bersabda:
“Mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dalam pergaulan sosial, ada ada saja di antara saudara kita yang perkataannya menyinggung perasaan, sikapnya tidak menyenangkan, dan perbuatannya merugikan. Terhadap mereka, islam mengajarkan agar kita lebih bersabar dan pandai-pandai memaafkan.
Dalam pergaulan sosial, tak bisa dihindari adanya gesekan, persaingan, dan sesekali perebutan. Orang-orang yang lapang dadanya mudah melupakan kesalahan orang lain, mudah memaafkan, dan tidak mendendam. Rasulullah saw bahkan mengajarkan:
“Hubungilah orang yang memutus hubungannya dengan kamu. Berilah (sesuatu) kepada orang yang enggan memberimu. Hindarkan dirimu dari orang yang mendzalimi kamu.” (HR. Ahmad)
Saat ini adalah kesempatan baik bagi kita untuk bersilaturrahim, menyambung kembali tali persaudaraan yang mungkin berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun telah putus. Hubungi kembali sanak saudara, handai taulan, teman dan sahabat lama yang hampir putus hubungan, atau malah dengan sengaja memutus tali silaturrahim dengan kita. Mari kita ulurkan tangan kita untuk meminta maaf dan memaafkan. Jauhkan kebencian, hindari dendam, dan hilangkan permusuhan. Mari kita hadirkan kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan.
Ciri keempat orang yang bertaqwa adalah: idza fa’aluu faakhisatan aw dzalamuu anfusahum dzakarullah fastaghfaruu lidzunuubihim (apabila berbuat kerusakan, mereka segera mengingat Allah, lalu meminta ampun atas kesalahan dan dosanya). Mereka adalah orang-orang yang memiliki Kecerdasan Spiritual.
Orang yang baik, dalam pandangan Islam bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan. Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang sama sekali bebas dari perbuatan dosa. Orang yang bertaqwa adalah mereka yang apabila melakukan kesalahan, perbuatan yang kurang baik, dan melanggar ketentuan, segera mengingat Allah lalu meminta ampun dan bertobat. Mereka segera kembali ke jalan yang benar dan lurus ketika terperosok. Mereka tidak terlalu lama berada dalam kesesatan.
Orang yang memiliki Kecerdasan Spiritual senantiasa mengingat Allah, kapan dan di manapun juga. Ketika hendak memulai sesuatu, mereka mengingat Allah lalu mengucapkan bismillah. Setiap langkahnya diperhitungkan, apakah sesuai dengan syari’at agama? Apakah perbuatan dan tindakannya itu menguntungkan bagi dirinya dan memberi manfaat kepada orang lain? Apakah perilakunya mencerminkan kasih sayang (Rahman dan Rahim)? Ketika pekerjaannya telah usai, tak lupa mereka bersyukur sambil mengucapkan alhamdulillah. Mereka tidak ingin dipuji, sebab mereka sadar bahwa segala puji adalah milik Allah. Hanya Dia yang patut mendapat pujian dan segala bentuk sanjungan. Mereka syukuri semua karunia Allah, lalu bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Wa lillahil hamd
Betapa indahnya gaya dan pola hidup orang-orang yang bertaqwa. Dengan Kecerdasan Finansialnya mereka bisa membantu sesama. Dengan Kecerdasan Emosinya mereka mempunyai mekanisme kontrol diri. Dengan Kecerdasan Sosialnya mereka dapat bermasyarakat. Dan dengan Kecerdasan Spiritualnya mereka sentiasa mensyukuri setiap karunia Allah, baik yang kecil, apalagi yang besar. Dan karunia yang terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah nikmat iman dan islam. Alhamdulillah nikmat itu telah dikaruniakan Allah kepada kita. Untuk itu kita harus pandai-pandai merawat dan menjaganya.
Ya Allah, hari ini kami mengakui bahwa Engkaulah sebesar-besar pemberi karunia. Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah atas bumi yang Engkau hamparkan, atas langit yang Engkau tinggikan, atas gunung-gunung yang Engkau pancangkan, atas alam semesta yang Engkau bentangkan, dan atas bintang-bintang yang Engkau tebarkan.
Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik pemberi nikmat. Kau pancarkan sinar matahari. Kau turunkan air hujan. Kau tumbuhkan pepohonan. Kau hidupkan hewan-hewan.
Ya Allah, ampuni kami. Kami sering lupa mensyukuri hidup kami, mensyukuri waktu dan kesempatan kami, mensyukuri setiap helaan nafas kami, mensyukuri apapun yang Kau berikan kepada kami.
Allahumma ya Allah, alangkah banyak nikmat yang Engkau curahkan kepada kami. Engkau beri kami nikmat iman. Engkau beri kami nikmat Islam, tetapi sedikit syukur kami kepada-Mu.
Wahai Allah yang Maha Bijaksana, ampuni kami yang hanya bersyukur apabila mendapatkan kesehatan, apabila mendapatkan rizki, apabila mendapatkan harta, apabila mendapatkan jabatan, apabila mendapatkan penghargaan, tapi kurang bersyukur jika mampu melaksakan shalat berjama’ah, beribadah, bersedekah, dan berzakat.
Ya Rabb, ajari kami untuk senantiasa mensyukuri hal-hal kecil dalam pandangan kami. Beri kami kekuatan untuk mengajari anak-anak kami untuk senantiasa bersyukur, dan jadikan mereka sebagai ahli syukur.
Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, …...............
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaaban-naar.


