TEKNOLOGI
PRODUKSI
DAN
USAHATANI
JAGUNG
PRODUKSI JAGUNG


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan,
produksi jagung pada 2009 mencapai 17,6 juta ton, 2010
mencapai 18,3 juta ton dan tahun 2011 turun menjadi 17,6
juta ton.



Kenaikan produksi jagung ini lebih disebabkan kenaikan
produktivitas, tetapi luas panen cenderung turun.



Penurunan luas panen jagung diperkirakan sebesar 4,84
persen.
Kebutuhan jagung dalam negeri mencapai 12 juta ton/tahun



Kapasitas produksi pabrik makanan ternak (PMT) ± 7 juta
ton/tahun, jika persentase jagung 50% berarti dibutuhkan ±
3,5 juta ton/tahun



Salah satu penyebab kurangnya minat masyarakat untuk
menanam jagung adalah ketidakpastian harga
2
JENIS JAGUNG
Jagung Gigi Kuda (Dent Corn) → biji kuning
besar
Jagung Mutiara (Flint Corn) → biji putih
Jagung Tepung (Flour Corn) → biji kuning kecil
lunak
Jagung Manis (Sweet Corn) → biji kuning dan
keriput jika kering
Jagung Brondong (Pop Corn) → biji kuning
lonjong runcing
Jagung Tunik (tiap biji berkelobot )
Jagung Ketan (waxy corn)
3
Dent maize - Z. indentata Sturt.

4
Dent maize (colour)- Z. indentata Sturt.

5
Flint maize - Z. indurata Sturt.

6
Flourcorn

7
Sweet corn - Z. saccharata Sturt. (syn. rugosa
Bonof.)

8
Popcorn - Z. everata Sturt

9
Pod corn - Z. tunicata Sturt

10
Waxy maize - Z. ceritina Kulesh.

11
TUJUAN PENGUSAHAAN
JAGUNG
JAGUNG
MUDA

JAGUNG

Jagung
semi
Jagung
sayur/rebus
Pangan

PIPILAN
KERING

Industri
Pakan
Benih
12
Jagung semi (babycorn)

13
14
Jagung rebus

15
Jagung pipilan

16
PERMASALAH UTAMA di LAPANGAN
 Biofisik

–
–
–
–

Kesuburan tanah
Kesesuaian iklim
Varietas
Gangguan hama
dan penyakit
– Teknik budidaya

 Sosial ekonomi

– Ketidaktahuan
– Ketersediaan sarana
produksi
– Pasar
– Modal usahatani
– Prilaku ekonomi
– Kepercayaan/tahayul

17
PERSYARATAN TUMBUH
UTAMA







Curah hujan selama masa
pertumbuhan antara 100 - 200
mm/bulan
pH tanah ≥ 5.5, jika kurang harus
dilakukan usaha perbaikan pH
dengan pengapuran (kalsit atau
dolomit). Dosis rata-rata per hektar
2 ton yang diberikan pada saat
pengolahan tanah (kapur diberikan
3-4 tahun sekali)
Tanah dengan drainase baik (tidak
tergenang)
Solum tanah dalam dan gembur 
untuk jagung manis dan semi
diperlukan pupuk kandang
18
SIFAT FISIOLOGIS JAGUNG






Jagung termasuk tanaman C4
Titik kompensasi cahaya mendekati 0
Hampir tidak ada fotorespirasi
Suhu optimum 30-350 C
Efisien dalam penggunaan air, translokasi
asimilat, penyerapan hara, laju pertumbuhan
relatif dan indeks panen (ratio antara biji dengan
jerami)

– Dari biji seberat 5 g dalam waktu 2 bulan dapat
menjadi tanaman dengan tinggi 2 m dan biji sebanyak
600-1000 butir (gandum hanya mampu menghasilkan
50 biji)
19
TAHAPAN TEKNIK BUDIDAYA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Varietas
Pengolahan tanah
Populasi tanaman (jarak tanam)
Pemupukan
Pengairan
Pengendalian hama
Panen dan pascapanen

20
Varietas


Hibrida

– Umumnya jagung gigi kuda dan tetuanya berasal dari introduksi
→ terutama untuk pakan
– Memiliki potensi hasil yang tinggi (6 – 8 ton pipilan kering/ha)
– Beberapa varietas belum resisten terhadap penyakit bulai
– Umumnya berumur dalam (>100 hari)



Bersari bebas

– Berasal dari seleksi masa, dan umumnya berumur sedang ( ± 85
hari)
– Memiliki potensi ralatif tinggi (5 – 6 ton pipilan kering/ha)



Lokal
–
–
–

Potensi hasil rendah (3 – 4 ton pipilan kering per ha)
Adaptasi sangat baik
Umur genjah (< 85 hari)
21
Contoh varietas komposit
No.

Varietas

Umur (hari)

Hasil rata-rata
(ton/ha)

1.

Arjuna

85 - 90

5-6

2.

Wiyasa

96

5,3

3.

Rama

98

5,0

4.

Bisma

96

5,7

5.

Lagaligo

90

5,3

6.

Kalingga

96

5,4

22
Contoh varietas hibrida
No

Varietas

Umur (hari)

Hasil rata-rata
(ton/ha)

Potensi (ton/ha)

1.

IPB 4

100

5,4

7,0

2.

C-1

98

5,8

8–9

3.

C-2

93

6,3

8–9

4.

C-3

95

6,4

8,2

5.

CPI-1

98

6,2

9,3

6.

CPI-2

97

6,2

8–9

7.

BISI-1 (CPI-3)

92

7,0

8 –9

8.

BISI-2 (CPI-4)

103

8,9

12 – 14

9.

BISI-3

94

6,6

9 –10

10.

BISI-4

98

6,9

11

11.

PIONEER-1

100

5,0

7+
23
Contoh varietas hibrida
No

Varietas

Umur (hari)

Hasil rata-rata
(ton/ha)

Potensi
(ton/ha)

12.

PIONEER-2

100

5,9

8,5

13.

PIONEER-3

98

6,4

9 – 10

14.

PIONEER-4

100

6,9

9 – 11

15.

PIONEER-5

99

6,8

9 – 10

16.

PIONEER-6

96 - 116

9,0

10 –12

17.

PIONEER-7

100 - 113

8,7

10 –11

18.

PIONEER-8

100 - 118

8,8

10 –12

19.

PIONEER-9

100 - 113

9,0

10 –12

20.

SEMAR-1

100

5,3

8–9

21.

SEMAR-2

90

5,0

8

22.

SEMAR-3

94

6,3

8–9
24
Pengolahan Tanah


Tujuan
–
–
–



Menyiapkan media tumbuh yang sesuai untuk jagung
Membersihkan gulma
Memperbaiki aerasi tanah

Cara
–
–
–
–

Dengan bajak atau manual
Dibajak dan digaru atau dicangkul
Pengolahan rata tidak perlu dibuat bedengan
Pengapuran diberikan pada saat pembajakan dengan
menaburkan secara rata
– Biarkan tanah terjemur matahari selama 2 minggu
25
Tanam dan Populasi


Rata-rata populasi antara 60.000-70.000 tan/ha
–
–
–





: 40.000 – 60.000 tan/ha
: 50.000 – 60.000 tan/ha
: 80.000 tan/ha

100 cm x 20 cm
80 cm x 20 cm
75 cm x 25 cm

1 tan/lubang
1 tan/lubang
1 tan/lubang

Jarak tanam
–
–
–



Hibrida
Bersari bebas
Lokal

Benih ditanam 2 biji per lubang tanam yang dibuat
dengan tugal
Pada saat tanam masukkan insektisida butiran dengan
dosis 10 kg/ha
26
Pemupukan


Tepat dosis

– Didasarkan pada kesuburan tanah, varietas dan
tujuan penanaman



Tepat waktu

– Harus memperhatikan kebutuhan unsur hara oleh
tanaman pada tiap fase pertumbuhan



Tepat cara

– Pupuk harus tepat diberikan pada tanaman, bukan
hanya sekedar menabur di tanah



Tepat jenis

– Tiap jenis pupuk mengandung unsur tertentu
27
Dosis Umum Pemupukan (kg/ha) dan Waktu
Pemberian

• SP-36 dan KCl diberikan sekaligus pada saat tanam
• Urea diberikan 1/3 saat tanam dan 2/3 umur 4 minggu
28
Cara Pemberian Pupuk







Pemberian secara alur
Alur dibuat 10 cm dari barisan tanam dengan
kedalaman alur 10-15 cm
Pupuk Urea, SP-36 dan KCl dicampur
sebelum sesuai dosis
Setelah pupuk ditebarkan dalam alur harus
segera ditutup agar tidak menguap dan
terbawa air
Pemberian pupuk organik (kompos atau
pupuk kandang) diberikan pada saat
pengolahan tanah atau pada alur tanaman
seminggu sebelum tanam
29
Pembumbunan dan Penyiangan







Pembumbunan dilakukan pada saat pupuk
Urea II (4 MST). Pembumbunan bertujuan
untuk merangsang pertumbuhan akar tunjang
dan menghindari dari kerobohan.
Penyiangan dilakukan jika gulma terlalu
banyak, biasanya umur 8 MST.
Penyiangan dengan herbisida harus dilakukan
secara bijaksana dengan herbisida yang
selektif.
Perbaiki saluran air agar tidak terjadi
genangan jika turun hujan, caranya dengan
mendalamkan saluran yang ada.
30
Pengendalian OPT


Pengendalian hama dan penyakit hanya dilakukan jika
dianggap perlu. Umumnya 2-3 semprot selama pertumbuhan
tanaman



Hama
– Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
 menyerang pada saat benih berkecambah.
 Pengendalian : berikan insektisida butiran pada saat
tanam (masukan dalam lubang benih) dengan dosis 10
kg/ha
– Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan tongkol
(Heliothis armigera Hbn)
 Menyerang saat tanaman muda dan saat tongkol mulai
terbentuk.
 Pengendalian dengan menyemprot dengan insektisida
cair yang selektif
– Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hwfn.)
 Menyerang daun terutama malam hari
 Pengendalian dengan penyemprotan insektiisda cair 31
Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)

32
Ostrinia furnacalis

33
Heliothis armigera

34
Agrotis ipsilon

35
Agrotis ipsilon

36
Pengendalian OPT


Penyakit
– Bulai (Perenosclerospora maydis Rac.)
 penyakit penting jagung menyerang saat umur 2 – 3 minggu
 Pengendalian yang baik adalah dengan menanam varietas
yang tahan (Arjuna, Nakula, Kalingga, dan hibrida)
 Jika terpaksa menggunakan fungisida gunakan Ridomil 35
SD dengan dosis 2 gram/kg sebagai perlakukan benih
(campur dengan benih)
– Hawar daun (Helminthosporium turcicum Pass.)
 Gejalanya terdapat bercak coklat basah pada daun
 Pengendalian dengan menanan varietas yang resisten
 Gunakan fungisida yang efektif
– Karat (Puccinia polysora Underw.)
 Terdapat bercak kecil pada daun
– Busuk tongkol ( Rhozictonia zeae Voorhess.)
 Terlihat sebagai cendawan berwarna merah muda pada
permukaan kelobot
 Pengendalian dengan fungisida efektif
37
Perenosclerospora maydis

38
Helminthosporium turcicum

39
Helminthosporium turcicum

40
Puccinia polysora

41
Rhizoctonia zeae

42
43
Rhizoctonia zeae

44
Ustilago spp

45
Panen dan Pascapanen










Panen dilakukan sesuai dengan tujuan
penanaman
Jagung pipilan kering dipanen dalam
bentuk tongkol berklobot atau tanpa
klobot
Panen untuk pipilan dilakukan setelah
terbentuk black layer pada biji dan
bagian biji telah keras jika ditekan
dengan kuku.
Tongkol yang telah dipanen dikeringkan
sampai dapat dilakukan pemipilan,
kemudian dijemur lagi sampai
mencapai kadar air simpan
Pemipilan dapat dilakukan dengan
tangan atau dengan mesin pipil.
Permasalahan pascapanen adalah
pengeringan jika musim panen jatuh
pada musim hujan → diperlukan alat
pengering

46
Kebutuhan Input (Per Ha)
No

Uraian

Volume

Satuan

80 - 120

HOK

20

Kg

Urea

300

kg

SP-36

250

kg

KCl

100

kg

4

Kapur

2000

kg

5

Pestisida
Insektisida butiran

10

kg

Insektisida cair

2

liter

Fungisida

2

kg

1

Tenaga kerja

2

Benih

3

Pupuk

47
HAMBATAN PERTUMBUHAN
 Hambatan yang timbul dibagi atas

beberapa fase
–
–
–
–
–

Sebelum muncul di permukaan tanah
Muncul sampai tanaman umur ± 1 bulan
Umur 1 bulan sampai saat berbunga
Berbunga sampai dengan pematangan
Pematangan sampai panen

48
Sebelum muncul di permukaan tanah
Tidak terjadi perkecambahan


Tidak ada biji



Terlewat tanam



Biji normal, tidak membengkak



Terlalu kering



Biji bengkak, tidak berkecambah



Terlalu basah / keracunan pupuk

Biji membusuk
Kecambah abnormal

Biji mati terserang Pythium atau
cendawan lainnya
Permukaan tanah keras, tanam terlalu
dalam, bahan kimia (herbisida)

Biji berlubang

Serangga tanah

Tanaman dicabut/biji dimakan

Burung

Tanaman dan biji dimakan

Tikus

49
Tanaman muncul sampai I bulan
Warna tanaman normal tetapi
pertumbuhan sangat pelan
Warna tanaman tidak normal

Kesuburan tanah tanah rendah, terlalu
kering, suhu udara terlalu rendah



Keseluruhan hijau muda



kekurangan N, S atau terlalu basah



Ujung daun kuning dan kering



kekurangan K



Warna ungu kemerahan terutama di
ujung daun



Kekurangan P, sifat genetis



Strip kuning keputihan di antara
tulang daun



Kekurangan Mg, pH rendah, kurang
Fe, Mn, atau B



Strip putih sepanjang tulang daun



Kekurangan S



Warna putih di tengah dan pangkal
daun



Kekurangan Zn

50
Tanaman muncul sampai I bulan
Daun menggulung, tanaman layu

Kekeringan, akar dimakan hama

Pucuk daun menggulung, tanaman
tidak layu
 Ujung daun layu atau kering



Kerusakan 2,4 D, atau genetik



Kekurangan Mo





Tanaman tiba2 layu dan mati



Serangan pemakan akar



Tanaman terpotong di permukaan



ulat tanah



Lubang2 ke arah lebar



Ulat pucuk



Lubang2 tidak beraturan



belalang

 Ulat tentara (grayak)
Pinggiran daun dimakan sampai
tulang daun
 Daun muda bergaris kuning dengan
 Penyakit bulai
tepung spora putih pd bagian bawah


51
Tanaman umur I bulan - berbunga


Tanaman rebah



Angin, kerusakan akar



Tanaman patah



Angin, penggerek batang



daun-daun bekas gigitan



Ulat, belalang



Daun berbintik-bintik kuning



Cendawan Curvularia

52
Berbunga sampai menjelang matang
Terlambat atau gagal berambut

Populasi terlalu rapat, kekeringan,
kekurangan N atau P

Rambut dimakan

Penggerek tongkol

Daun dimakan

Ulat daun, belalang

Biji dimakan dengan menggerek

Penggerek tongol, penggerek batang

Kelobot dirusak biji dimakan

Burung, tikus

Daun dan batang ungu kemerahan

Genetik, kerdil mozaik

Tanaman banyak tanpa tongkol/kecil

Populasi terlalu tinggi, kesuburan
kurang, kekeringan saat kritis, rambut
rusah
53
Berbunga sampai menjelang matang
Daun kering, runcing, abnormal,
Penyakit bulai
batang lemah, meliuk, di bawah daun
ada butir spora
Daun berbintik-bintik coklat/orange
menonjol kasar

Penyakit karat (Puccinia)

Daun berbecak-becak coklat kering
dan jaringan mati

Helminthosporium

Tongkol besar tapi biji kurang

Gangguan polinasi

54
Matang sampai panen
Patah batang di bawah tongkol di
antara ruas

Busuk batang Pythium, lemah
batang karena kahat K

Patang batang di atas tongkol

Penggerek batang

Tongkol terlalu kecil

Kekeringan, kesuburan rendah,
polinasi tergannggu

Tongkol terlalu besar

Tanaman terlalu jarang

Tongkol/biji rusak

Busuk tongkol Diplodia, Gibberella,
Fusarium

55
Bahan Bacaan Tanaman Pangan

56

Budidaya jagung

  • 1.
  • 2.
    PRODUKSI JAGUNG  Berdasarkan dataBadan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi jagung pada 2009 mencapai 17,6 juta ton, 2010 mencapai 18,3 juta ton dan tahun 2011 turun menjadi 17,6 juta ton.  Kenaikan produksi jagung ini lebih disebabkan kenaikan produktivitas, tetapi luas panen cenderung turun.  Penurunan luas panen jagung diperkirakan sebesar 4,84 persen. Kebutuhan jagung dalam negeri mencapai 12 juta ton/tahun  Kapasitas produksi pabrik makanan ternak (PMT) ± 7 juta ton/tahun, jika persentase jagung 50% berarti dibutuhkan ± 3,5 juta ton/tahun  Salah satu penyebab kurangnya minat masyarakat untuk menanam jagung adalah ketidakpastian harga 2
  • 3.
    JENIS JAGUNG Jagung GigiKuda (Dent Corn) → biji kuning besar Jagung Mutiara (Flint Corn) → biji putih Jagung Tepung (Flour Corn) → biji kuning kecil lunak Jagung Manis (Sweet Corn) → biji kuning dan keriput jika kering Jagung Brondong (Pop Corn) → biji kuning lonjong runcing Jagung Tunik (tiap biji berkelobot ) Jagung Ketan (waxy corn) 3
  • 4.
    Dent maize -Z. indentata Sturt. 4
  • 5.
    Dent maize (colour)-Z. indentata Sturt. 5
  • 6.
    Flint maize -Z. indurata Sturt. 6
  • 7.
  • 8.
    Sweet corn -Z. saccharata Sturt. (syn. rugosa Bonof.) 8
  • 9.
    Popcorn - Z.everata Sturt 9
  • 10.
    Pod corn -Z. tunicata Sturt 10
  • 11.
    Waxy maize -Z. ceritina Kulesh. 11
  • 12.
  • 13.
  • 14.
  • 15.
  • 16.
  • 17.
    PERMASALAH UTAMA diLAPANGAN  Biofisik – – – – Kesuburan tanah Kesesuaian iklim Varietas Gangguan hama dan penyakit – Teknik budidaya  Sosial ekonomi – Ketidaktahuan – Ketersediaan sarana produksi – Pasar – Modal usahatani – Prilaku ekonomi – Kepercayaan/tahayul 17
  • 18.
    PERSYARATAN TUMBUH UTAMA     Curah hujanselama masa pertumbuhan antara 100 - 200 mm/bulan pH tanah ≥ 5.5, jika kurang harus dilakukan usaha perbaikan pH dengan pengapuran (kalsit atau dolomit). Dosis rata-rata per hektar 2 ton yang diberikan pada saat pengolahan tanah (kapur diberikan 3-4 tahun sekali) Tanah dengan drainase baik (tidak tergenang) Solum tanah dalam dan gembur  untuk jagung manis dan semi diperlukan pupuk kandang 18
  • 19.
    SIFAT FISIOLOGIS JAGUNG      Jagungtermasuk tanaman C4 Titik kompensasi cahaya mendekati 0 Hampir tidak ada fotorespirasi Suhu optimum 30-350 C Efisien dalam penggunaan air, translokasi asimilat, penyerapan hara, laju pertumbuhan relatif dan indeks panen (ratio antara biji dengan jerami) – Dari biji seberat 5 g dalam waktu 2 bulan dapat menjadi tanaman dengan tinggi 2 m dan biji sebanyak 600-1000 butir (gandum hanya mampu menghasilkan 50 biji) 19
  • 20.
    TAHAPAN TEKNIK BUDIDAYA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Varietas Pengolahantanah Populasi tanaman (jarak tanam) Pemupukan Pengairan Pengendalian hama Panen dan pascapanen 20
  • 21.
    Varietas  Hibrida – Umumnya jagunggigi kuda dan tetuanya berasal dari introduksi → terutama untuk pakan – Memiliki potensi hasil yang tinggi (6 – 8 ton pipilan kering/ha) – Beberapa varietas belum resisten terhadap penyakit bulai – Umumnya berumur dalam (>100 hari)  Bersari bebas – Berasal dari seleksi masa, dan umumnya berumur sedang ( ± 85 hari) – Memiliki potensi ralatif tinggi (5 – 6 ton pipilan kering/ha)  Lokal – – – Potensi hasil rendah (3 – 4 ton pipilan kering per ha) Adaptasi sangat baik Umur genjah (< 85 hari) 21
  • 22.
    Contoh varietas komposit No. Varietas Umur(hari) Hasil rata-rata (ton/ha) 1. Arjuna 85 - 90 5-6 2. Wiyasa 96 5,3 3. Rama 98 5,0 4. Bisma 96 5,7 5. Lagaligo 90 5,3 6. Kalingga 96 5,4 22
  • 23.
    Contoh varietas hibrida No Varietas Umur(hari) Hasil rata-rata (ton/ha) Potensi (ton/ha) 1. IPB 4 100 5,4 7,0 2. C-1 98 5,8 8–9 3. C-2 93 6,3 8–9 4. C-3 95 6,4 8,2 5. CPI-1 98 6,2 9,3 6. CPI-2 97 6,2 8–9 7. BISI-1 (CPI-3) 92 7,0 8 –9 8. BISI-2 (CPI-4) 103 8,9 12 – 14 9. BISI-3 94 6,6 9 –10 10. BISI-4 98 6,9 11 11. PIONEER-1 100 5,0 7+ 23
  • 24.
    Contoh varietas hibrida No Varietas Umur(hari) Hasil rata-rata (ton/ha) Potensi (ton/ha) 12. PIONEER-2 100 5,9 8,5 13. PIONEER-3 98 6,4 9 – 10 14. PIONEER-4 100 6,9 9 – 11 15. PIONEER-5 99 6,8 9 – 10 16. PIONEER-6 96 - 116 9,0 10 –12 17. PIONEER-7 100 - 113 8,7 10 –11 18. PIONEER-8 100 - 118 8,8 10 –12 19. PIONEER-9 100 - 113 9,0 10 –12 20. SEMAR-1 100 5,3 8–9 21. SEMAR-2 90 5,0 8 22. SEMAR-3 94 6,3 8–9 24
  • 25.
    Pengolahan Tanah  Tujuan – – –  Menyiapkan mediatumbuh yang sesuai untuk jagung Membersihkan gulma Memperbaiki aerasi tanah Cara – – – – Dengan bajak atau manual Dibajak dan digaru atau dicangkul Pengolahan rata tidak perlu dibuat bedengan Pengapuran diberikan pada saat pembajakan dengan menaburkan secara rata – Biarkan tanah terjemur matahari selama 2 minggu 25
  • 26.
    Tanam dan Populasi  Rata-ratapopulasi antara 60.000-70.000 tan/ha – – –   : 40.000 – 60.000 tan/ha : 50.000 – 60.000 tan/ha : 80.000 tan/ha 100 cm x 20 cm 80 cm x 20 cm 75 cm x 25 cm 1 tan/lubang 1 tan/lubang 1 tan/lubang Jarak tanam – – –  Hibrida Bersari bebas Lokal Benih ditanam 2 biji per lubang tanam yang dibuat dengan tugal Pada saat tanam masukkan insektisida butiran dengan dosis 10 kg/ha 26
  • 27.
    Pemupukan  Tepat dosis – Didasarkanpada kesuburan tanah, varietas dan tujuan penanaman  Tepat waktu – Harus memperhatikan kebutuhan unsur hara oleh tanaman pada tiap fase pertumbuhan  Tepat cara – Pupuk harus tepat diberikan pada tanaman, bukan hanya sekedar menabur di tanah  Tepat jenis – Tiap jenis pupuk mengandung unsur tertentu 27
  • 28.
    Dosis Umum Pemupukan(kg/ha) dan Waktu Pemberian • SP-36 dan KCl diberikan sekaligus pada saat tanam • Urea diberikan 1/3 saat tanam dan 2/3 umur 4 minggu 28
  • 29.
    Cara Pemberian Pupuk      Pemberiansecara alur Alur dibuat 10 cm dari barisan tanam dengan kedalaman alur 10-15 cm Pupuk Urea, SP-36 dan KCl dicampur sebelum sesuai dosis Setelah pupuk ditebarkan dalam alur harus segera ditutup agar tidak menguap dan terbawa air Pemberian pupuk organik (kompos atau pupuk kandang) diberikan pada saat pengolahan tanah atau pada alur tanaman seminggu sebelum tanam 29
  • 30.
    Pembumbunan dan Penyiangan     Pembumbunandilakukan pada saat pupuk Urea II (4 MST). Pembumbunan bertujuan untuk merangsang pertumbuhan akar tunjang dan menghindari dari kerobohan. Penyiangan dilakukan jika gulma terlalu banyak, biasanya umur 8 MST. Penyiangan dengan herbisida harus dilakukan secara bijaksana dengan herbisida yang selektif. Perbaiki saluran air agar tidak terjadi genangan jika turun hujan, caranya dengan mendalamkan saluran yang ada. 30
  • 31.
    Pengendalian OPT  Pengendalian hamadan penyakit hanya dilakukan jika dianggap perlu. Umumnya 2-3 semprot selama pertumbuhan tanaman  Hama – Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)  menyerang pada saat benih berkecambah.  Pengendalian : berikan insektisida butiran pada saat tanam (masukan dalam lubang benih) dengan dosis 10 kg/ha – Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan tongkol (Heliothis armigera Hbn)  Menyerang saat tanaman muda dan saat tongkol mulai terbentuk.  Pengendalian dengan menyemprot dengan insektisida cair yang selektif – Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hwfn.)  Menyerang daun terutama malam hari  Pengendalian dengan penyemprotan insektiisda cair 31
  • 32.
    Lalat bibit (Atherigonaexigua Stein) 32
  • 33.
  • 34.
  • 35.
  • 36.
  • 37.
    Pengendalian OPT  Penyakit – Bulai(Perenosclerospora maydis Rac.)  penyakit penting jagung menyerang saat umur 2 – 3 minggu  Pengendalian yang baik adalah dengan menanam varietas yang tahan (Arjuna, Nakula, Kalingga, dan hibrida)  Jika terpaksa menggunakan fungisida gunakan Ridomil 35 SD dengan dosis 2 gram/kg sebagai perlakukan benih (campur dengan benih) – Hawar daun (Helminthosporium turcicum Pass.)  Gejalanya terdapat bercak coklat basah pada daun  Pengendalian dengan menanan varietas yang resisten  Gunakan fungisida yang efektif – Karat (Puccinia polysora Underw.)  Terdapat bercak kecil pada daun – Busuk tongkol ( Rhozictonia zeae Voorhess.)  Terlihat sebagai cendawan berwarna merah muda pada permukaan kelobot  Pengendalian dengan fungisida efektif 37
  • 38.
  • 39.
  • 40.
  • 41.
  • 42.
  • 43.
  • 44.
  • 45.
  • 46.
    Panen dan Pascapanen       Panendilakukan sesuai dengan tujuan penanaman Jagung pipilan kering dipanen dalam bentuk tongkol berklobot atau tanpa klobot Panen untuk pipilan dilakukan setelah terbentuk black layer pada biji dan bagian biji telah keras jika ditekan dengan kuku. Tongkol yang telah dipanen dikeringkan sampai dapat dilakukan pemipilan, kemudian dijemur lagi sampai mencapai kadar air simpan Pemipilan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan mesin pipil. Permasalahan pascapanen adalah pengeringan jika musim panen jatuh pada musim hujan → diperlukan alat pengering 46
  • 47.
    Kebutuhan Input (PerHa) No Uraian Volume Satuan 80 - 120 HOK 20 Kg Urea 300 kg SP-36 250 kg KCl 100 kg 4 Kapur 2000 kg 5 Pestisida Insektisida butiran 10 kg Insektisida cair 2 liter Fungisida 2 kg 1 Tenaga kerja 2 Benih 3 Pupuk 47
  • 48.
    HAMBATAN PERTUMBUHAN  Hambatanyang timbul dibagi atas beberapa fase – – – – – Sebelum muncul di permukaan tanah Muncul sampai tanaman umur ± 1 bulan Umur 1 bulan sampai saat berbunga Berbunga sampai dengan pematangan Pematangan sampai panen 48
  • 49.
    Sebelum muncul dipermukaan tanah Tidak terjadi perkecambahan  Tidak ada biji  Terlewat tanam  Biji normal, tidak membengkak  Terlalu kering  Biji bengkak, tidak berkecambah  Terlalu basah / keracunan pupuk Biji membusuk Kecambah abnormal Biji mati terserang Pythium atau cendawan lainnya Permukaan tanah keras, tanam terlalu dalam, bahan kimia (herbisida) Biji berlubang Serangga tanah Tanaman dicabut/biji dimakan Burung Tanaman dan biji dimakan Tikus 49
  • 50.
    Tanaman muncul sampaiI bulan Warna tanaman normal tetapi pertumbuhan sangat pelan Warna tanaman tidak normal Kesuburan tanah tanah rendah, terlalu kering, suhu udara terlalu rendah  Keseluruhan hijau muda  kekurangan N, S atau terlalu basah  Ujung daun kuning dan kering  kekurangan K  Warna ungu kemerahan terutama di ujung daun  Kekurangan P, sifat genetis  Strip kuning keputihan di antara tulang daun  Kekurangan Mg, pH rendah, kurang Fe, Mn, atau B  Strip putih sepanjang tulang daun  Kekurangan S  Warna putih di tengah dan pangkal daun  Kekurangan Zn 50
  • 51.
    Tanaman muncul sampaiI bulan Daun menggulung, tanaman layu Kekeringan, akar dimakan hama Pucuk daun menggulung, tanaman tidak layu  Ujung daun layu atau kering  Kerusakan 2,4 D, atau genetik  Kekurangan Mo   Tanaman tiba2 layu dan mati  Serangan pemakan akar  Tanaman terpotong di permukaan  ulat tanah  Lubang2 ke arah lebar  Ulat pucuk  Lubang2 tidak beraturan  belalang  Ulat tentara (grayak) Pinggiran daun dimakan sampai tulang daun  Daun muda bergaris kuning dengan  Penyakit bulai tepung spora putih pd bagian bawah  51
  • 52.
    Tanaman umur Ibulan - berbunga  Tanaman rebah  Angin, kerusakan akar  Tanaman patah  Angin, penggerek batang  daun-daun bekas gigitan  Ulat, belalang  Daun berbintik-bintik kuning  Cendawan Curvularia 52
  • 53.
    Berbunga sampai menjelangmatang Terlambat atau gagal berambut Populasi terlalu rapat, kekeringan, kekurangan N atau P Rambut dimakan Penggerek tongkol Daun dimakan Ulat daun, belalang Biji dimakan dengan menggerek Penggerek tongol, penggerek batang Kelobot dirusak biji dimakan Burung, tikus Daun dan batang ungu kemerahan Genetik, kerdil mozaik Tanaman banyak tanpa tongkol/kecil Populasi terlalu tinggi, kesuburan kurang, kekeringan saat kritis, rambut rusah 53
  • 54.
    Berbunga sampai menjelangmatang Daun kering, runcing, abnormal, Penyakit bulai batang lemah, meliuk, di bawah daun ada butir spora Daun berbintik-bintik coklat/orange menonjol kasar Penyakit karat (Puccinia) Daun berbecak-becak coklat kering dan jaringan mati Helminthosporium Tongkol besar tapi biji kurang Gangguan polinasi 54
  • 55.
    Matang sampai panen Patahbatang di bawah tongkol di antara ruas Busuk batang Pythium, lemah batang karena kahat K Patang batang di atas tongkol Penggerek batang Tongkol terlalu kecil Kekeringan, kesuburan rendah, polinasi tergannggu Tongkol terlalu besar Tanaman terlalu jarang Tongkol/biji rusak Busuk tongkol Diplodia, Gibberella, Fusarium 55
  • 56.