I M AN U R U L K U R N I A N I N G S I H
AKF 19051
A l I f f I a n r I s k I k h o I r u l l a h
akf 19009
H I k m a w a t i
akf 19048
R E S A F E B R I A N A
AKF 19083
A D I N D A D U W I R A H A Y U
AKF 19003
W I W I K N U R D I A N A H
AKF 19107
3.
P e ng e r t I a n
Asidimetri merupakan salah satu metode
kimia analisa kuantitatif yang didasarkan
pada prinsip titrasi asam-basa yang
berfungsi untuk menentukan kadar basa
dalam suatu larutan secara analisa
titrimetri.
Asidimetri termasuk reaksi netralisasi.
4.
Sebelum melakukan titrasimaka di buat larutan standar. Larutan standar dibagi menjadi 2
yaitu :
Standart Primer Standart Sekunder
Larutan yang mengandung zat
padat murni yang konsentrasi
larutannya diketahui secara tepat
menetapkan konsentrasi larutan lain
yang belum diketahui.
Larutan suatu zat yang konsentrasinya
tidak dapat diketahui karena berasal dari
zat yang tidak pernah murni. Konsentrasi
larutan ini ditentukan dengan
pembakuan menggunakan larutan baku
primer, biasanya melalui metode
titrimetri.
Reaksi Netralisasi
Reaksi netralisasi adalah reaksi asam dan basa yang digunakan sebagai penggabungan ion-ion
secara kimia.
Asam adalah zat yang terdapat dalam air, yang dapat memberikan ion Hidrogen (H+) atau ion
Hidronium (H3O+) bila dilarutkan dalam air.
Sedangkan Basa adalah zat dalam air yang menghasilkan ion hidroksi.
5.
P r In s I p a s I d I m e t r i
Titrasi asidimetri melibatkan basa sebagai
titer dan asam sebagai titran yang
ditambahkan sedikit demi sedikit sampai
kedaan TITIK EKUIVALEN yang artinya
titran dan titer habis bereaksi.
Titran yang dipakai dalam titrasi asam basa
selalu asam kuat atau basa kuat. Titik Akhir
Titrasi (TAT) mudah diketahui dengan membuat
kurva titrasi yaitu plot antara pH larutan
sebagai fungsi dari volume titran yang
ditambahkan. TAT ditentukan dengan memilih
indikator yang warnanya berubah sekitar titik
ekivalen
6.
I N DI K A T O R
Indikator adalah zat yang dapat digunakan untuk menunjukkan sifat suatu zat melalui
perubahan warnanya yang khas. Indikator dibagi menjadi 3 yaitu :
Indikator tunggal Indikator universal Indikator alami
Dapat membedakan
larutan bersifat asam
atau basa, tetapi tidak
dapat mengetahui harga
pH dan pOH. Yang
termasuk indikator
tunggal adalah lakmus
biru, lakmus merah,
fenolftalein, metil jingga,
metil merah, dan
brotimol biru
Dapat membedakan
larutan asam atau basa
dengan mengetahui
harga pH dari larutan
tersebut. Indikator
universal dapat dalam
bentuk kertas dan cairan.
Cara kerja indikator ini
dengan mencocok kan
perubahan warna kertas
indikator pada tabel
warna indikator
universal.
Indikator asam basa yang
berasal dari tumbuh -
tumbuhan. Bagian
tumbuhan yang dapat
digunakan di antaranya
mahkota bunga, daun,
dan akar dibuat dalam
bentuk larutan dengan
cara meng ekstraknya,
ditetesi larutan asam dan
basa.
7.
Berikut ini contoh
rentangbeberapa
Indikator tunggal :
Indikator yang sering
digunakan adalah indikator
PP/fenolftalein. Indikator
yang dipilih adalah indikator
yang cepat berubah pada
invers pH sekitar titik
ekuivalen. Phenolptalin (pp) /
Fenolftalein, merupakan
indikator basa dengan
interval pH: 8,0 – 10,0.
Perubahan warna yang
terjadi adalah tidak berwarna
menjadi merah jambu /
merah muda (pink). Indikator
ini dipakai pada titrasi asam
lemah atau asam kuat
dengan basa kuat (pH titik
ekivalen > 7).
8.
T I ti k A k h I r T I t r a s I d a n
P e r u b a h a n
Proses titrasi dihentikan apabila telah terjadi perubahan warna apabila :
1.Titrasi Asam Lemah Dan Basa Kuat yang menggunakan indikator fenolftalin
(PP) adalah terjadinya warna merah jambu (pink) dari tidak berwarna.
2. Titrasi Basa Lemah Dan Asam Kuat yang menggunakan indikator metil jingga
adalah berubahnya warna merah menjadi kuning. Untuk titrasi basa lemah atau
basa kuat dengan menggunakan asam kuat yang menggunakan indikator metil
merah adalah berubahnya warna merah menjadi kuning
3. Titrasi Asam Lemah Atau Asam Kuat dengan menggunakan basa kuat yang
menggunakan indikator fenolftalin adalah terjadinya warna merah jambu (pink)
dari tidak berwarna.
9.
P r os e d u r r e a k s I a s I d I m e t ri
1. Zat penitrasi (titran) yang merupakan larutan baku dimasukkan ke dalam buret.
.
2. Zat yang dititrasi (titrat) ditempatkan pada wadah (gelas kimia atau erlenmeyer) yang
di tempatkan tepat dibawah buret yang berisi titran.
3. Tambahkan 1 ml indikator yang sesuai pada titrat, misalnya, indikator fenoftalien
Buret harus berdiri tegak, wadah titrat
tepat dibawah ujung buret, dan
tempatkan sehelai kertas putih atau
tissu putih di bawah wadah titrat
unutk memperjelas pada saat melihat
titik akhir titrasi karena warnanya yang
putih kontras.
10.
P r os e d u r r e a k s I a s I d I m e t ri
4. Atur titran yang keluar dari buret (titran dikeluarkan sedikit demi sedikit) sampai
larutan di dalam gelas kimia menunjukkan perubahan warna dan diperoleh titik akhir
titrasi.
.
6. Hitung rata-rata volume titran yang digunakan lalu hitung konsentrasi tiiter dengan
menggunakan persamaan berikut :
5. Hentikan titrasi, lalu catat volume titran yang terpakai. Lakukan pengulangan titrasi
sampai 3x
. V1.N1 = V2.N2
V : Volume
N : Normalitas
11.
C o nt o h s o a l a s I d I m e t r i !
1. Jika 20,60 mL larutan HCl 0,0100 M digunakan untuk mentitrasi 30,00 mL larutan
NaOH sampai titik ekivalen, berapakah konsentrasi larutan NaOH?
- Persamaan reaksi setara: HCl + NaOH —> NaCl + H2O
- Mol HCl = M x V = (0,0100 mol/L) (0,02060 L) = 0,000206 mol
Karena perbandingan ekivalen HCl dan NaOH adalah 1:1, maka mol
NaOH sama dengan mol HCl, yaitu 0,000206 mol.
- Jadi konsentrasi NaOH : 0,000206 mol / 0,03000 L = 0,00687 M
Jawab :
12.
2. Berapakah volume0,105 M HCl untuk mentitrasi larutan berikut sampai titik
ekivalen?
a) 22,5 mL NH3 0,118 M
b) 125,0 mL larutan yang mengandung 1,35 gram NaOH per liter
- Persamaan reaksi setara: HCl + NH3 —> NH4Cl
- Mol NH3 = M x V = (0,118 mol/L) (0,0225 L)
= 0,002655 mol
Karena perbandingan ekivalen HCl dan NH3
adalah 1:1, 1 banding 1, maka mol HCl = mol
NH3 = 0,002655 mol
- Jadi Volume HCl :
0,105 mol/L = 0,002655 mol / x x
= 0,0253 L
= 25,3 mL
Jawab :
a. b.
- konsentrasi larutan NaOH:
M. V = massa / massa molar (x) (1,00 L)
= 1,35 g / 40,00 g/mol
x = 0,03375 M
- Persamaan reaksi setara:
HCl + NaOH —> NaCl + H2O
- Menentukan volume HCl yang dibutuhkan:
M1V1 = M2V2 (0,03375 mol/L) (125,0 mL)
= (0,105 mol/L) (x)
x = 40,18 mL